Senin, 18 November 2013

Dongeng Asal Usul Kain Sutra


Asal Usul Kain Sutra

Pada zaman dahulu kala, saat perang masih berkecamuk, raja mengkhawatirkan nasib kerajaannya. Suatu malam ia berjalan mondar-mandir di taman di bawah cahaya rembulan. Keningnya berkerut, menggambarkan roman wajahnya. Perang semakin memburuk, dan situasi berubah begitu cepat. Istananya tak lama lagi akan diserbu oleh musuh

Puteri memperhatikan kegundahan ayahnya malam itu, ia kemudian mendatangi ayahnya dan berkata, “Ayah, masalah apakah yang membuatmu sangat bersedih?”

“Ah, putriku, apa yang sedang kau lakukan di sini pada tengah malam? Kau seharusnya sudah tidur”

Raja menasehatinya dengan lembut, kepada putri satu-satunya yang tak hanya cantik namun juga pintar. Semua orang di kerajaan menyayangi dan menghormati sang putri

“Jangan mengkhawatirkanku ayah. Tolong katakan padaku, apa yang mengusik pikiranmu”

“Kau tak perlu tahu tentang hal itu. Jika kau turut mengkhawatirkannya hanya akan menambah kegelisahanku saja” jawabnya

“Ayah, aku bukan anak kecil lagi. Aku tahu kita dalam masa perang. Katakanlah permasalahan yang ada, mungkin aku bisa membantu”

Raja terdiam sejenak, dan berkata, “Baiklah. Mungkin lebih baik aku mengatakannya padamu daripada kau mendengarnya dari luar sana. Jika kau ingin tahu, perang semakin menimbulkan dampak yang buruk bagi kita. Setiap harinya ada ribuan prajurit kita gugur di medan perang. Dan aku tak akan bisa menyelamatkan kerajaan jika tak segera membuat perubahan”

Putri kemudian menjawab “ Ayah, aku tahu lebih dari yang kau pikirkan. Tak hanya terhadap sulaman yang kupergunakan untuk mengisi waktu. Aku sekilas juga tahu prajurit kita berkurang dan sepertinya aku punya ide yang dapat menolong kita”

“Oh?” raja terkejut.


“Apapun yang terjadi, kita harus menyelamatkan kerajaan. Aku berencana menawarkan diriku sendiri demi kebaikan semua orang, ayah. Katakan pada jendral-jendral untuk membuat sebuah pengumuman besok. Katakan pada mereka aku akan menikahi siapapun yang bisa menebas kepala dari komandan musuh. Aku akan dengan senang hati menjadi istri seorang pemberani. Dan bayangkan apa yang akan terjadi ayah. Dengan adanya komandan yang mati, musuh akan mundur dan merubah jalannya perang”.

“Apa kau sadar dengan yang kau katakan? Ini sangat mulia dan tanpa pamrih jika kau ingin menawarkan dirimu pada pria yang membunuh jendral musuh. Namun pria yang menikahimu bisa juga menjadi pewaris tahtaku”

“Ayah, pria pemberani manapun yang mampu membunuh komandan musuh pastilah pria yang hebat. Tentu ia akan menjadi suami yang baik untukku dan pengganti yang cakap bagimu”

Raja tergerak dengan ketaatan putrinya, “Baiklah, mungkin kau benar. Dan idemu bisa saja berlanjut. Mari kita mencobanya putriku. Mungkin kau bukan seorang anak-anak lagi”

Keesokan harinya raja meminta sebuah pengumuman agar di buat di seluruh penjuru kerajaan: Putri akan menikahi siapapun yang mampu membunuh komandan musuh dan membawa pulang kepalanya. Dan pangeran yang baru akan mewarisi tahta.

Tetapi para menteri keberatan “Ini adalah rencana yang tak waras Yang Mulia. Seharusnya kita lebih seletif terhadap dalam memilih suami untuk puteri sebab ia akan menjadi raja baru. Hal ini adalah permasalah yang berat serta membutuhkan pertimbangan dan konsultasi yang panjang”.

“Ini permintaan putriku dan aku berada di pihknya. Pengumuman harus terpasang seperti yang aku minta”

Para menteri menggerutu sendiri untuk menyusun jawaban. Suara ringkikan kuda terdengar di taman istana dan gemuruh derap langkah menyurut mengaraha gerbang istana. Cukup aneh, tapi tak ada satupun yang memikirkan hal tersebut hingga keesokan paginya.

Pada saat subuh, semua orang di istana terbangun dengan pukulan genderang kemenangan dan suara sorak sorai. Raja dan puteri berlari dari kamar tidur, masih dengan penampilan kusut guna melihat hal yang membangkitkan rasa ingin tahu. Pasukan-pasukan bersama-sama keluar di lapangan, penuh kegembiraan dan semangat.

Sebelum menanyakan apa yang terjadi, raja mendengar ringkikan keras dari kuda di arah taman istana. Suara yang sama yang ia dengar sore hari sebelumnya. Berpikir seorang jendral mungkin akan mengumumkan kemenangan, raja buru-buru menuju taman.

Disana berdiri seekor kuda jantan putih dengan tubuh yang tertutup busa dan darah, Di mulutnya ia memegang kepala dari jendral tertinggi musuh dan ketika melihat sang raja, ia menggoyangkan ekornya dan menjatuhkan kepala tersebut di depan kaki sang raja. Seorang prajurit berlari maju dan berlutu di depan raja.

“Yang Mulia, ini tak bisa dipercaya. Kuda ini menyerang jendral musuh dan menebas kepalanya. Dengan pimpinannya yang tewas, musuh kita berada dalam ketakutan dan bergerak mundur dari peperangan”.

Sementara prajurit berbicara, si kuda mengangguk sebagai penanda kebenaran dari cerita tersebut. Raja memeluk kuda dan mengusapnya dengan bahagia.

“Oh, kuda pemberani. Kau adalah kuda hebat yang membawa kami dalam kemenangan”

Semenjak saat itu raja menyimpan kuda tersebut di kandang tersendiri dengan pelayan khusus dan menjadikannya sebagai tunggangan pribadi.

Namun puteri tidak puas. Raja diam-diam menyadari bahwa ini adalah kuda dan bukan manusia, yang telah membawa kepala jendral musuh. Sekarang tak ada permasalahan ketidakpuasan menantu atau pewaris tahta yang tak sesuai seperti yang ditakutkan para menteri. Raja tak lagi menganggam dirinya terikat dengan peraturan dari pengumuman tersebut. Tapi puteri sangat berbeda jalan pikirannya dengan sang raja sehingga iapun berkata, “Ayah, aku sudah menganggap kuda itu adalah suamiku. Untuk menepati kata-kataku, aku tak akan menikahi siapapun”

“Omong kosong apa yang kau bicarakan, jangan memberikan perhatian pada kuda itu. Aku sudah memberi perlakuan terbaik daripada kuda-kuda istana lainnya”

Sang puteri bersikeras bahwa jiwanya yang menikahi kuda tersebut, “Ayah, aku harus melakukan hal yang benar. Saat kau sebagai raja, membuat keputusan, ini akan menjadi peraturan yang tak bisa diubah. Seorang raja, lebih dari pria manapun harus menjaga janjinya terhadap manusia bahkan monster sekalipun. Dan aku adalah puterimu. Karenanya aku harus hidup dengan kuda itu hingga mati”.

Ketetapan hati sang puteri membuat ayahnya tak senang. Sebenarnya ia sedih dengan penolakan putrinya untuk tak menikahi siapapun. Namun yang menjadi persoalan serius adalah ia tak akan memiliki penerus akibat keteguhan putri dengan kebodohannya. Dengan rasa kesal, ia menyuruh seorang bawahannya untuk membunuh kuda tersebut.

Ketika puteri mendengar hal tersebut, ia berlari menuju ayahnya “Tidak! Tidak! Yang Mulia. Bagaimana bisa kau memikirkan hal itu padahal kuda tersebut sudah menyelamatkan kerajaan? Ini bertentangan dengan Tuhan. Kumohon batalkan perintahmu”

Raja menyadari dirinya bereaksi tergesa-gesa, ia kemudian menenangkan putrinya, “Aku akan mempertimbangkan. Jika kau ingin menyelamatkan hidup dari kuda, sederhana berjanjilah padaku kau akan menyerah dengan ide gila dari pernikahan spiritual. Perhatikan dirimu tak bersama kuda lagi dan ia akan bisa hidup”.

Reaksi sang putri sangat tak terduga. Matanya memancarkan kemarahan “Yang mulia, bagaimana bisa kau melanggar janjimu? Kau seorang raja, dan kata-katamu adalah peraturan bagi kerajaan ini. Jika kau tak akan memenuhi janjimu maka aku yang akan melakukannya”.

Dan kini raja murka. Ia malu ditantang oleh puterinya sendiri dihadapan para menteri “Apa yang kau tunggu, kuperintahkan untuk membunuh kuda itu segera”.

“Ayah! Tolong, aku tak bermaksud membuatmu marah. Tolong pertimbangkan”.

Puteri berlutut di depan raja sambil menarik legannya. Meskipun ia memohon dengan sangat, terdengar pekikan dari taman. Kuda itu mati.

Raja hanya ingin mengubah pikiran puterinya, namun kemarahan dan harga diri melebihi segalanya. Dan kini ia mendapatkan kembali kesabarannya, namun ini sudah terlambat. Ia meminta anak buahnya menguliti kuda dan menggantungnya secara tersembunyi di sebuah pohon di taman. Esok paginya puteri datang ke taman dan menghabiskan hari itu untuk berkabung (atas kuda yang telah mati).

Suatu hari terdengar suara teriakan dari taman. Saat orang-orang di istana berlari untuk menyelidiki mereka melihat hal yang aneh. Puteri membungkus dirinya dengan kulit kuda. Dan mereka terlihat ketakutan, sebuah hembusan angin keras bertiup dari langit yang cerah dan membawa sang puteri.

Raja sangat menyesal dan ia merana akan kehilangan putrinya. Selanjutnya kesehatannya memburuk dan ia hanya berbaring sepanjang musim. Di musim semi datang sebuah kabar bahwa kulit kuda ditemukan tergantung di sebuah pohon di area terpencil di kerajaan. Raja bergegas menyelidiki kabar tersebut dan menemukan kulit itu, tak pelak lagi itu adalah kulit yang sama dengan yang tergantung di taman istana namun telah mengalami pembusukan.

“Sudahlah. Jika kulit kuda sudah membusuk, maka puteriku juga sudah mati”
Ia putus asa memikirkan tubuh puterinya yang hilang.

“Buang daging busuk ini” perintahnya, dan ia menangis demi puterinya
Seorang menteri menurunkan kulit itu dan memperhatikan adanya ulat yang tak biasa di bagian dalam kulit. Ia mempelajarinya beberapa saat dan kemudian berkata ”Yang Mulia. Saya yakin ini adalah jiwa dari sang puteri. Kesetiaannya pada kuda membuatnya berubah menjadi ulat ini”.

“Mengapa kau mempercayainya?” tanya sang raja

“Perhatikan dengan dekat, yang mulia. Anda akan melihat bahwa mulut ulat ini mirip dengan mulut kuda. Dan jika Anda amati Anda akan melihat bahwa ia menggigit daun seperti kuda mengunyah rumput. Dan kulit lembut ulat ini menunjukkan kecantikan dan kelembutan puteri kita”

Raja mengamati ulat tersebut memakan pohon aneh dan kemudian ia menangis lagi, meratap “Baiklah!, puteriku kau sekarang terlahir menjadi ulat”.

Ia kemudian meminta sang menteri membawa pulang ulat ke istana dan ia akan memeliharanya dengan baik.

Dibawah pengawasan menteri, ulat itu berkembang biak. Raja mengirimkannya ke orang-orang yang mencintai sang puteri. Bertahun-tahun ulat itu ada di setiap desa. Orang-orang merawatnya dengan baik, kulitnya yang putih susu dan benang yang dihasilkan dapat dipintal menjadi kain terbaik. Orang memberi makan ulat tersebut mulberry, yakni pohon dimana ulat tersebut ditemukan.

Dikatakan juga bahwa hingga saat ini ulat sutera memproduksi benang lembut dari mulutnya karena ia adalah reinkarnasi sang puteri yang sangat terkenal akan sulaman terbaiknya. Di area terpencil di negara, wanita masih percaya bahwa memakan ulat sutera mentah dapat membuat kulit selembut kulit sang puteri. Namun entah ini fakta ataupun gurauan belakan, tak ada satupun yang mampu mengatakannya.