Minggu, 01 Desember 2013

[story] Begitu Bodohnya Aku, Sampai tak Menyadarinya !!!


Begitu Bodohnya Aku, Sampai tak Menyadarinya !!!


Kisah remaja tidak lepas dari pergaulannya. Dalam hal seperti itu teman lah yang mengambil peran penting. Bukankah seperti itu?
Saat bersama teman-temanku aku merasa senang, bukan karna apa-apa. Tapi kami paling menghargai satu sama lain, percaya satu sama lain. Tak jarang kami saling berbagi pengalaman, kisah hidup, impian, kesedihan, dan kebahagiaan.

Suatu hari saat salah satu temanku menceritakan betapa bahagianya dirinya memiliki orang yang selalu ada disisinya. Selalu ada saat dia membutuhkannya. Selalu menguatkannya saat dia mulai terpuruk. Seseorang yang membuatnya tersenyum saat dia merasa sedih. Seseorang yang mencintainya. *(boyfriend)

Aku juga seorang remaja. Aku senang saat sahabatku merasa senang. Tapi aku juga tak mengerti kenapa perasaanku seperti ini? Bagai dua sisi uang logam. Satu sisi aku benar-benar senang saat sahabatku bahagia. Tapi disisi lain aku iri padanya. Dan aku ingin menjadi dirinya suatu saat nanti. Tapi aku dan dia sudah berjanji satu sama lain, untuk jadi diri sendiri. Sahabat, aku harus bagaimana? Aku juga ingin merasakan kebahagiaan mempunyai seseorang disisiku.

Hingga . . . . . Suatu hari aku sadar. . . .


Malam itu malam minggu. Saat ada waktu luang aku sempatkan untuk menonton drama Korea maupun Jepang kesukaanku. Dan tak jarang aku menonton sampai jam 2 malam, dan hanya tidur beberapa jam. Ini aku lakukan karna aku berpikir "Besokkan minggu! Lagipula aku pengen merefresh otakku".

Ditempat lain, ibuku dari jam 7 (setelah sholat isya') sudah tidur. Karna kondisi tubuhnya yang tak cukup baik.

Waktu berjalan begitu cepat, seakan-akan lari meninggalkanku. . .

Jam dinding dikamarku menunjukkan pukul 22.57 WIB. Di tengah kebisingan suara yang kudengarkan dari headset aku mendengar suara pintu yang tengah dibuka. Aku mempause drama yang tengah aku lihat. Dan ternyata memang benar, ibuku bangun dan pergi ke kamar mandi. Tapi aku merasakan hal yang berbeda. Entah apa itu, aku tak tahu pasti.

Akhirnya aku putuskan untuk menyudahi semua ini dan pergi tidur. Aku menutup layar laptopku dan beranjak tidur. "Aduh!! Aku belum mematikan lampunya!". Tapi aku tak bisa melakukannya. Jika aku melakukan itu, ibu akan tahu kalau aku belum tidur jam segini. Akhirnya aku membiarkan lampu itu menyala dan mulai memejamkan mata.

Tak lama setelah itu, aku mendengar langkah kaki di depan kamarku. Tapi, langkah kaki itu tak lama menghilang. Dan berganti dengan suara pintu kamar ibuku yang terbuka.

Grekkk, suara dencitan pintu. Aku tahu, ada seseorang membuka pintu kamarku. Aku mencoba mengintip dari celah-celah selimut. Dan . . .
Klek. Lampu di kamarku padam.

Dalam kesunyian air mataku mengalir. Bagaikan banjir badang yang tengah melanda kota Jakarta. Kenapa aku sebodoh ini? Aku sudah memilikinya! Aku juga memiliki orang yang selalu ada disampingku. Yang selalu mendukungku, memberikanku kekuatan, bahkan dia rela mengorbankan nyawanya untukku. Dia orang yang tak akan pernah menyakitiku apalagi menusukku dari belakang.

Ibu maafkan aku. Maaf jika selama ini aku menghiraukan keberadaanmu. Aku sadar kau segalanya bagiku. Dan terima kasih kau tetap selalu ada disisiku walau aku telah menghiraukanmu. Sungguh aku tak mengerti apa jadinya kalau aku tanpamu, ibu.

Ya ALLAH, berikanlah ibu hamba kesehatan agar hamba bisa membahagiakannya dan menebus dosa-dosa yang telah saya lakukan kepadanya.



by : Rizqi Anisa . L


***
Thanks for reading, semoga bermanfaat. Aku hanya berpesan "Sesuatu hal akan berharga saat hal itu mulai menghilang". Kawan, jangan sampai kita menyesal dikemudia hari. :)
Byee ^^