Kamis, 08 Mei 2014

Cerpen "Pentingnya Saling Mengerti" || Part 1 ||

Cerpen
“Pentingnya Saling Mengerti”


Aku tidak tahu kenapa orang hanya percaya pada pikiran mereka dan tidak mau mendengarkan orang lain.

Aku tidak menyangka kejadian akan serunyam ini.
Suatu malam saat aku sudah berencana untuk rajin dengan mengerjakan tugas saat ada waktu luang agar tidak repot saat tiba hari di mana tugas itu diminta untuk dikumpulkan. Aku menyibukkan diri di kamar sehabis mandi. Sampai adzan magrib berkumandang.

Alkhamdulilah, ibuku mengingatkanku untuk menyegerakan sholat magrib dan beranjak sejenak dengan kegiatanku yang berkutik dengan laptop. Sehabis sholat aku diminta tolong ibuku untuk mengantarnya ke tempat penjahit baju untuk membenahi baju yang sudah kekecilan. Akhir-akhir ini ibuku sudah tidak bisa naik sepeda motor sendiri, karena kondisi bahu tangan kanannya yang tengah sakit.

Sebelum keluar aku ingat, kalau salah satu jaketku ada yang resletingnya rusak. Aku bertanya pada ibuku untuk memperbaikinya. “Mungkin saja itu tidak bisa”, jawabnya. Aku sedikit kecewa dengan jawaban dari ibuku. Dalam pikiranku, mungkin saja penjahit itu mau mencarikan resleting yang cocok dengan warna jaketku. Karena aku tidak sempat mencari, aku selalu pulang sekolah sore. Aku sekolah di luar kota, yang membutuhkan kurang lebih 1 jam perjalanan.

Akhirnya ibuku bilang padaku, kalau saja ibu mau tanya apakah penjahit itu bisa mencarikan reslatingnya atau tidak. Entah kenapa, aku mengambil tas kesukaanku yang sudah sedikit lusuh. Tas itu resletingnya juga rusak. Aku minta tolong pada ibuku untuk membawanya sekalian. Ibuku melarangku untuk membawanya.


Aku tidak mengira kalau ibuku akan bilang seperti itu. Itu tas kesukaanku. Tas yang aku gunakan untuk memasukkan buku-buku paket yang aku bawa ke sekolah *(kalau dimasukkan ke tas sekolah, berat). Dengan sedikit raut wajah yang muram aku keluar menghampiri sepeda motor. Aku berdiri mematung di samping sepeda motor. Aku baru ingat kalau kunci sepedanya masih di dalam rumah. Aku masuk ke dalam untuk mengambil kunci. Di pintu masuk aku berpapasan dengan ibuku. Saat aku keluar setelah mendapatkan kunci sepeda aku lihat ibuku masih bingung mencari salah satu pasang sandal yang hendak ibuku pakai.

Entahlah, tiba-tiba ibuku bilang kalau aku yang membuang salah satu sandalnya. Aku hanya diam. Aku menyalakan mesin dan sedikit menekan rem. Dalam benakku, ibuku akan mudah mencari salah satu sandalnya dengan bantuan pancaran cahaya merah dari lampu motor. Tapi, aku rasa ibuku salah mentafsirkan apa yang aku lakukan *(sebagai tanda untuk segera pergi). Ibuku masuk ke dalam rumah dan mengambil sandal yang lainnya.

Di perjalanan, aku sedikit ngebut. Bukan karena marah atau apa. Tapi karena kondisi jalan yang tengah kosong. Sampai di depan rumah penjahit rasanya aku enggan masuk kesana. Ibuku sudah masuk ke dalam. Aku dipersilahkan masuk juga. Aku rasanya gak mau masuk. Mau ngapain juga masuk? Tapi pikiranku menyuruhku masuk, pikiranku menganggap kalau aku tidak masuk itu akan menyinggung hati si pemilik rumah *(penjahit).


Aku akhirnya masuk dan duduk di pojok ruangan. Aku hanya diam dan menunduk. Menyibukkan diri dengan ponsel yang sempat aku masukkan ke dalam saku jaket. Tapi sayangnya, hati penjahit itu terlalu peka dengan apa yang sedang terjadi. Dia bertanya padaku kenapa aku diam di sudut ruangan. Aku hanya diam. Aku sedikit enggan untuk menggerakkan bibirku.


. . . . . . . 



baca juga