Kamis, 08 Mei 2014

Cerpen "Pentingnya Saling Mengerti" || Part 2 ||

Cerpen
“Pentingnya Saling Mengerti”



Aku tidak tahu kenapa orang hanya percaya pada pikiran mereka dan tidak mau mendengarkan orang lain.

. . . . . . . .

Aku akhirnya masuk dan duduk di pojok ruangan. Aku hanya diam dan menunduk. Menyibukkan diri dengan ponsel yang sempat aku masukkan ke dalam saku jaket. Tapi sayangnya, hati penjahit itu terlalu peka dengan apa yang sedang terjadi. Dia bertanya padaku kenapa aku diam di sudut ruangan. Aku hanya diam. Aku sedikit enggan untuk menggerakkan bibirku.

Ibu bilang kalau aku sedang marah. Marah karena enggan untuk mengantarkannya ke tempat penjahit itu. Aku seperti ada di ujung tombak. Aku ingin menyangkal apa yang di katakan ibuku adalah tidak benar. Aku tidak marah, tapi aku kecewa dengan ibuku. Kecewa karena banyak hal. Ibuku terlalu meremehakan tas yang aku suka dan menuduhku telah menyembunyikan sandalnya agar tidak jadi ke tempat penjahit.

Aku seperti bernafas tanpa oksigen di rumah penjahit itu. Aku mendengar apa yang aku tidak ingin dengar. Bukan maksudku untuk membangkang apa yang dikatakan orang yang lebih tua dariku. Tapi aku menganggap, apa yang mereka bicarakan itu menurut sudut pandang meraka sendiri sebagai orang tua. Meraka berbicara tanpa memikirkan apa yang sebenarnya terjadi denganku. Aku menyadari kalau itu salah satu bentuk kasih sayang orang tua pada anak yang menginginkan anaknya bersikap baik.

Tapi, mereka tidak pernah ingin tahu apa yang sebenarnya sang anak inginkan. Mereka punya anggapan bahwa mereka sudah mengenal penuh asam garam kehidupan.

Saat pulang, aku meneteskan air mata. Aku sudah tidak nyaman dengan suasana seperti ini. Pasti dari sudut pandang sebagai orang tua, aku seorang anak yang pembangkang. Oh~ itu istilah yang menyakitkan untukku. Aku sama sekali tidak ingin menyakiti hati orang lain, khususnya orang tuaku.

Dalam perjalanan aku mengumpat dalam dalam hati. Sebenarnya apa yang mereka tahu tentang aku? Bahkan kadang saat aku ingin berbagi kisah dengan mereka, meraka tidak punya waktu untuk itu. Memikirkan itu semua membuat air mataku menetes lebih deras.


Di jalan aku berulang kali bertemu dengan tetanggaku dan aku tidak uluk salam dengan mereka. Aku seperti sosok yang buruk di perjalanan pulang. Karena kami tinggal di daerah yang saat kental dengan tradisi jawa *(saling sapa saat bertemu), dengan tidak uluk salam seperti itu dianggap sebagai tingkah laku yang sombong dan angkuh.

Alasan aku tidak uluk salam dengan tetanggaku adalah aku tidak ingin mareka tahu kalau aku sedang menangis. Aku memang tidak uluk salam, tapi aku sedikit menundukkan kepalaku untuk tanda saling menghormati. Tapi karena kondisi jalan yang sedikit redup, usahaku ini terlihat sia-sia.

Aku ingat kalau menyapa bisa dengan membunyikan klakson sepeda motor. Dan di salah satu perempatan jalan, terlihat ada segerompolan orang-orang yang hendak pergi ke tempat pengajian. Dan aku melihat kalau pamanku ada di sana. Aku membunyikan klakson bermaksud untuk menyapa. Tapi aku rasa itu salah! Mereka menganggap kalau aku mengusir mareka dan meminta jalan untuk lewat.

Aku merasa apa yang aku lakukan semua salah!

Apa ini hanya pikiranku saja karena aku sedang emosi???

Aku hanya ingin di dunia ini tidak ada kesalahpahaman. Itu sungguh menyakitkan!

Aku berharap aku bisa menyesuaikan pemikiranku dengan pemikiran orang tuaku.

Atau orang tuaku bisa memahami apa yang aku pikirkan.



Yang kita butuhkan sekarang adalah saling mengerti.

END


baca juga