Selasa, 24 Juni 2014

Gitu Saja Kok Repot !




Saya kadang bingung dengan situasi ini. Yaitu ketika ada dua kelompok sedang berkompetisi (apapun kompetisinya), maka kenapa kecenderungannya kedua belah pihak malah sibuk dengan menjelek-jelekkan satu sama lain? Kelompok A merendahkan kelompok B, dan sebaliknya B tidak mau ketinggalan, mencari keburukan A. 

Termasuk saat pemilihan presiden ini. Aduh, saya benar-benar tidak paham, kenapa dua kelompok ini lebih fokus ke saling menjelek-jelekkan satu sama lain? Penuh sesak media sosial, website berita, dengan hal-hal ini. Si A begini, si B begitu. Di balas lagi, si A begitu, si B begini. Apa poinnya? Apa sih maksudnya? Saya benar-benar bingung. Kenapa mereka tidak memilih untuk fokus saja ke kelebihan masing-masing tidak perlu merecoki kekurangan orang lain. Itu jelas lebih baik dan lebih dari cukup. 

Kalau mereka terus melakukannya (dan semakin gencar) menjelang pemilihan presiden, maka jangan salahkan jika orang-orang jadi berpikir : Jangan-jangan dua kelompok ini semua memang tidak punya kelebihan apapun, sehingga hanya asyik dengan saling menjelekkan. Jangan-jangan dua kelompok ini malah dua-duanya memang tidak layak pilih. 


Coba lihat saja situasinya, semua pernyataan A, selalu salah oleh kelompok B. Pun semua pernyataan B, juga salah oleh kelompok A. Kalau dua belah pihak sama-sama menyalahkan, lantas siapa yang benar? Dua-duanya benar, atau dua-duanya salah? Kelompok A bilang jangan percaya B, kelompok B bilang jangan percaya A. Nah loh, jadi kami harus percaya mana dari dua omongan yang satu sama lain saling menegasi jangan percaya. Atau jangan-jangan memang dua-duanya tidak perlu dipercaya lagi. Kelompok A bilang B itu penipu, kelompok B bilang A itu penipu; Aduh buyung, lantas mana yang jujur? Jangan-jangan dua-duanya memang penipu. 

Dalam situasi begini, baik kelompok A dan kelompok B, menjelekan musuhnya simple karena berebut simpati pemilih mengambang, yang belum menentukan pilihan. Tapi rumitnya, ketika pemilih mengambang bertanya-tanya mana baiknya yang dipilih, mereka hanya diberikan tontonan begini-begini saja. Dan semakin rumit lagi, jangan coba-coba pemilih mengambang nyeletuk : “saya pusing, mending saya golput saja” ; pasti langsung diceramahi habis-habisan oleh pendukung dua kelompok ini. Aduh, yang butuh suara itu siapa sih? Kenapa yang kebelet banget dengan suara, malah ceramah dan marah-marah. Coba saja kalian iseng bilang golput di media sosial kalian, dua kelompok ini jadi kompak, bersatu padu menjadikan kalian sebagai samsak baru mereka (minimal kalian diceramahi tentang patriotisme, mengubah nasib, dsbgnya).

Maka saya benar-benar berharap, masih ada yang memikirkan soal ini. Pemilihan presiden masih 3 minggu lagi, masih tersisa waktu bagi siapapun untuk bertanggungjawab atas mendidik generasi kita. Memberikan teladan bagi mereka. Jangan salahkan jika anak-anak SMP, SMA jadi asyik tawuran, lah, kita sendiri yang mempertontonkan "tawuran" dimana-mana soal pilpres ini. Jangan salahkan jika anak-anak kita, remaja-remaja kita jadi nge-bully, lah, kita sendiri yang mempertontonkan mem-bully orang secara terang-terangan di media sosial. Sebelum terlanjur, masih ada waktu untuk memperbaiki banyak hal. 

Buat yang kebelet banget posting sesuatu tentang pilpres, pikirkan sekali lagi. Eh, bukankah sehari ini saya sudah 10kali posting tentang jagoan saya. Baiklah, hari ini cukup (makan obat saja paling mentok 3x sehari). Setiap kali mau share sesuatu, pikirkan dalam-dalam, kira-kira apa manfaatnya, apa mudharatnya. Pikirkan pula, apakah ini valid, apakah ini dari sumber yang benar (bukan cuma dari website yang memang isinya begitu semua), bukan sekadar tulisan karangan saja. Jangan nafsu sekali bergegas menekan tombol share, pikirkan sekali lagi, beri waktu terbaik memikirkannya. 

Semua orang bertanggungjawab memberikan teladan bagi anak-anak dan remaja kita. Besok lusa, mereka lah yang akan jadi pemimpin. Kita pasti tidak mau jika mereka ternyata mewarisi tabiat yang sama. Karena yang namanya demokrasi, sudah begitu naturnya. Satu suara preman, sama nilainya dengan satu suara profesor. Demokrasi tidak bicara benar-salah. Demokrasi itu bicara siapa yang punya suara terbanyak. 

Jadi silahkan tentukan pilihan masing-masing, simpan dalam hati, lantas silahkan pilih pas pemilihan nanti. Gitu saja kok repot.

Repost from Tere Liye’s account Facebook. Semoga bermanfaat, dan menjadikan kita pemilih yang bijaksana. Indonesia ada di tangan kita. Semangat ^^