Senin, 27 Oktober 2014

Aku Tidak Akan Meninggalkanmu (CERPEN)



Ia segera mempersiapkan diri untuk berangkat ke Seoul, ibukota Korea Selatan. Tujuannya hanya satu, yaitu School of Performing Art Seoul atau yang biasa disebut SOPA. Gadis yang cukup pintar dan berbakat ini tak menyangka dirinya mendapatkan beasiswa untuk bersekolah di SOPA. Dulu SOPA hanya impian baginya. Tapi sebentar lagi, ia akan segera meraih mimpi untuk menuntut ilmu di SOPA.

Setelah menyiapkan seluruh kebutuhannya, ia mempercantik penmpilannya dengan dandanan tipis. Ia bergegas menuruni tangga dan berjalan ke meja makan.
“Lami, kau sudah siap?” Tanya ibunya yang sedang mempersiapkan roti panggang kesukaannya. Ya, gadis itu bernama Lami, Kim Lami. Dia berumur 18 tahun. Lami adalah gadis yang ceria dalam keadaan apapun. Ia sangat menyayangi ibunya. Ayahnya meninggal 2 tahun yang lalu karena sakit yang di deritanya. Itulah salah satu alasan Lami sangat menyayangi ibunya. Ia ingin melihat ibunya tersenyum di masa depan saat melihat kesuksesan Lami. Ia akan berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakan ibunya.
“Tentu. Aku sudah sangat siap, Bu,” jawab Lami penuh semangat dan tentu saja dengan senyuman yang membuat wajahnya berseri – seri.
“ Kemarilah, ibu sudah mempersiapkan sarapan untukmu,” kata ibunya lembut. Lami pun menghampiri meja makan dan mengambil satu roti panggang dan memakannya dengan perasaaan senang. Ia tak sabar ingin segera berangakat ke SOPA agar bisa segera melihat SOPA.

Setelah selesai sarapan, Lami menghampiri pamannya yang sudah menunggunya diluar untuk mengantarnya ke stasiun kereta. Ibunya turut ikut walaupun hanya sampai stasiun kereta.
“Ibu, Lami pergi dulu ya. Ibu harus selalu menjaga kesehatan ibu,” kata Lami saat sampai di stasiun. “Iya. Kau juga harus makan yang teratur dan istirahat yang cukup. Kau bisa pulang kapan saja kau mau.” Kata Ibu Lami menasehati. Lami lalu memeluk ibunya dan meneteskan air mata. Tak beberapa lama setelah itu, terdengar suara yang menandakan kereta Lami telah tiba. Lami melepaskan pelukannya.
“Paman, Lami titip ibu ya. Tolong jaga ibu selama Lami tidak disini,” pinta Lami. “Dengan senang hati,” jawab pamannya. Lami lalu masuk ke kereta dan mencari tempat duduknya. Setelah ia menemukan kursinya, ia duduk dan melihat keluar dan melambaikan tangan pada ibu dan pamannya.
Setelah beberapa jam perjalanan, Lami pun akhirnya tiba di Seoul dan segera mencari tempat SOPA berdiri. Ia bertanya pada seseorang. Setelah mendapatkan informasi, Lami pun bergegas menuju tempat yang dimaksud. Dan ia menemukannya. Gerbang SOPA terbuka untuknya. Setelah masuk, Lami sangat kagum dengan segala fasilitas yang ada. Karena tidak sabar, Lami pun segera mencari letak ruang staff. Karena terburu – buru, Lami tidak sengaja menabrak seorang gadis.
“Ohh, maafkan aku,” kata Lami lalu memunguti barangnya dan barang gadis itu. “Terimakasih,” kata gadis itu sambil tesenyum.
“ Iya,” jawab Lami dengan tersenyum juga. “ Aku terlalu terburu – buru tadi. Aku sedang mencari ruang staff,” lanjutnya. “Kau mau kesana?” Tanya gadis itu.
                “ Ya. Aku siswi baru dari Seoul. Aku mendapatkan beasiswa disini,” ungkap Lami.
                “Benarkah? Aku pun juga mendapat beasiswa disini. Kebetulan aku juga mau ke ruang staff. Kita bisa pergi bersama.” Kata gadis itu penuh semangat.
                “Tentu. Siapa namamu?” Tanya Lami.
                “Sunny, Kwon Sunny. Namamu?
                “Lami. Kim Lami. Senang bertemu denganmu,” kata Lami sambil membungkukkan badan
                “Aku juga,” Sunny balas membungkukkan badan. Mereka lalu berjalan menuju ruang staff. Disana mereka mengurus administrasi masing – masing. Setelah selesai, mereka keluar dan berjalan menuju asrama mereka.
                “Kau dapat kamar berapa?” Tanya Sunny. “Kamar nomor 10,” jawab Lami. “Kau sendiri?”
                “Kita sama,” kata Sunny sambil tersenyum. “Bukankah ini bagus? Kita bisa menjadi teman baik mulai sekarang,” lanjut Sunny.
                “Ya,tentu saja. Kebetulan aku suka angka 10. Angka yang sempurna,” jawab Lami. “Sunny, berapa umurmu?” Tanya Lami. “Aku 19 tahun,” jawab Sunny.
                “Wahh.. kau bisa ku anggap kakak mulai sekarang. Kau satu tahun lebih tua dariku. Aku 18 tahun saat ini,” kata Lami dengan gembira.
                “Baiklah, tetapi kau tak perlu memanggilku dengan tambahan ‘kakak’, cukup Sunny saja,” pinta Sunny. Lami mengacungkan ibu jarinya sambil tersenyum.
Selama berjalan menuju asrama, Lami dan Sunny membicarakan banyak hal. Sunny ternyata keturunan keempat Jepang – Korea. Ayahnya orang Jepang dan ibunya orang Korea. Dia pernah tinggal di Jepang sebelumnya. Tapi setelah mendapatkan beasiswa ke SOPA, Sunny memutuskan untuk tinggal di Korea ditemani bibinya. Sunny sangat fasih berbahasa Korea. Ibunya yang mengajarinya. Lami dan Sunny memiliki banyak persamaan. Contoh saja mereka sama – sama suka sarapan dengan roti panggang, membaca novel, menonton film, dan banyak lagi. Mereka pun baik dan murah senyum    pada semua orang tanpa terkecuali. Mereka tak hanya satu kamar di asrama, tetapi mereka juga satu kelas nantinya. Sebuah awal yang baik untuk mereka berdua.

***

                Sang mentari menampakkan sinarnya dan membuat dua orang gadis yang tertidur pulas perlahan membuka mata mereka. Lalu, mereka ingat hari ini hari pertama mereka masuk sekolah dan tentu saja mereka tak boleh terlambat. Mereka pun bergegas bersiap – siap. Setelah selesai bersiap diri, mereka pun berangkat menuju SOPA. Waktu masih menunjukkan pukul 06.30. Tetapi karena terlalu bersemangat mereka pun akhirnya berangkat lebih awal.
                Sesampainya di sekolah, belum ada banyak orang yang berangkat karena masih terlalu pagi. Hanya ada satu dua orang yang berjalan menuju tujuan masing – masing. Sesampainya di kelas, Lami dan Sunny melihat tiga anak perempuan sedang berbicang – bincang.
                “Halo,” sapa Lami dan Sunny ketika mereka berdua sampai di dekat tiga anak tersebut.
                “Ohh.. Halo,” sapa salah seorang gadis. “Apa kalian siswi baru? Aku tak pernah melihat kalian sebelumnya,” kata seorang gadis lainnya.
                “Ya, aku Sunny dan ini Lami. Kami berdua mendapat beasiswa kesini. Senang bertemu,” kata Sunny dan disusul dengan membungkukkan badan. Begitu juga Lami.
                “Aku Irene, ini Joy, dan ini Naomi.” Gadis yang bernama Irene tersebut memperkenalkan dirinya dan kedua temannya. “Kami dari kamar 11,” lanjut Joy.
                “Benarkah? Kita bertetangga rupanya. Kamar kami di nomor 10. Kita bisa berteman mulai sekarang,” kata Lami dengan senyumnya yang cerah.
                “Tentu saja,” jawab mereka bersamaan. Mereka pun berbicata untuk saling mengenal satu sama lain. Tiba – tiba datang dua orang anak laki – laki yang membuat lima gadis itu terkejut.
                “Heyyy.. Wussup girl. Kalian pasti sedang membicarakan kita,” kata salah salah satu laki – laki tersebut penuh percaya diri. Laki – laki yang satunya hanya berkata “Dia yang berkata,bukan aku.”
                “Hey  Jackson!! Kenapa kau PD sekali?!!” kata Irene agak sebal. “PD itu perlu Irene.” Jawab orang Jackson ringan. “Dan sepertinya kita punya kawan baru,” lanjutnya.
                “Ohh iya.. Lami, Sunny ini Jackson dan ini Mark. Jackson, Mark ini Lami dan ini Sunny,” kata Irene sambil menunjuk orang yang dimaksud. “Senang bertemu,” kata Lami dan Sunny sambil membungkukkan badan. Lalu Jackson menawarkan makan malam untuk merayakan perkenalan mereka. Jackson adalah anak yang baik dan menyenangkan. Tetapi terkadang Jackson juga bisa menyebalkan seperti tadi. Sementara Mark adalah anak yang lumayan pendiam. Dia satu kamar dengan Jackson. Walaupun pendiam, tapi Mark adalah anak yang baik.

***

                Hari – hari ke tujuh anak muda tersebut dipenuhi banyak kebahagiaan. Mereka sering pergi bersama, makan bersama, dan belajar bersama. Lami dan Sunny pun menjadi sahabat yang sangat baik. Mereka selalu bersama. Tak hanya itu, mereka memiliki banyak barang yang sama seperti tas, baju, sepatu, case handphone, dan berbagai aksesoris lainnya. Mereka juga punya satu buku diary tetapi mereka gunakan untuk berdua. Buku itu berwarna coklat dan sangat sederhana. Mereka membeli buku itu disebuah toko aksesoris. Kebahagiaan maupun kesedihan mereka tumpahkan dalam buku itu sebagai tanda pershabatan mereka. Mereka pun sering berfoto bersama dan mengunggahnya ke jejaring sosial. Sampai suatu hari tujuh sahabat itu akan mengikuti camp disebuah pegunungan di Korea. Camp itu ditujukan kepada anggota pecinta alam di SOPA. Dan mereka termasuk didalamnya.
                “Kenapa ingin ikut Camp itu?” Tanya ibu Lami melalui telefon. Lami sedang menelfon ibunya untuk meminta izin mengikuti camp tersebut.
                “Lami ikut extra pecinta alam, bu. Sekolah mengharuskan semua angggota pecinta alam ikut. Ibu tak perlu cemas. Banyak teman – teman Lami yang akan menjaga Lami. Tolong izinkan Lami, bu,”pinta Lami. Ibunya menghela nafas panjang.”Baiklah,ibu mengizinkanmu. Jangan lupa jaga diri baik – baik. Dan jangan lupa menghubungi ibu.” Nasehat ibunya.
                “Iya. Lami janji akan menjaga diri baik – baik. Lami sayang ibu,” kata Lami dengan gembira.
                “Ibu juga sayang Lami.” Lalu pembicaraan mereka terputus.

***
                “Semua siap?” Tanya Jackson memastikan. Keenam temannya mengangguk dengan senyuman. Waktu menunjukkan pukul 8 malam. Karena perjalanan cukup jauh, mereka memutuskan berangkat di malam hari agar paginya sudah sampai. Mereka berangkat menggunakan mobil milik Mark tetapi Jackson yang menyetir. Mark duduk di samping Jackson. Dibelakangnya ada Irene dan Joy. Dan di tempat duduk paling belakang, ada Naomi, Sunny, Lami. Lami duduk disamping Sunny. Tentu saja, karena mereka tak ingin dipisahkan.
                Di dalam mobil Irene, Joy, dan Naomi berbicang – bincang. Mark bersama Jackson mendengarkan musik. Tetapi tentu saja, Jackson tak lupa boleh harus konsentrasi saat menyetir. Sementara Lami dan Sunny berbicara mengenai mimpi mereka.
                “Sekarang tanggal 3 September bukan? Dan sekarang pukul 00.30?” Tanya Sunny pada Lami.
                “ Ya, memangnya kenapa?” Lami balas bertanya.
                “Tidak apa – apa. Aku hanya mengatur waktu dan tanggal di ponselku karena tadi ponselku mati.” Jelas Sunny.
“Kau tahu, aku ingin menjadi orang sukses dimasa depan bersama kalian. Karena itulah aku tak ingin berpisah dengan kalian. Dan aku ingin kita terus bersama,” kata Sunny.
“Aku pun begitu. Aku ingin kita terus bersama sampai kapan pun,” jawab Lami.
“Kita semua juga,” kata Irene, Joy, Naomi, Mark, dan Jackson bersamaan. Ternyata mereka mendengarkan pembicaraan Lami dan Sunny tadi. Lalu mereka pun tertawa bersama dan dilanjutkan dengan candaan – candaan konyol dari Jackson yang semakin membuat mereka tertawa bahagia.
Jalanan sangat sepi malam itu. Hanya ada beberapa mobil yang berlalu lalang. Jalanan yang licin karena terguyur hujan dan berkelak – kelok, memaksa Jackson untuk extra berhati – hati. Hanya tawa mereka yang mengisi kesunyian di jalan ini.
Tiba – tiba saja mobil tegelincir dan hilang kendali. Tawa yang mengiasi kesunyian berubah menjadi teriakan ke tujuh anak yang ada dalam mobil tersebut. Mobil berputar berkali – kali sebelum akhirnya menabrak pembatas jalan. Salah satu ban belakang mobil itu lepas. Kemudian keaadaan menjadi sunyi senyap dan tak ada teriakan lagi.

***
                Hari itu, setelah kecelakaan yang fatal terjadi, Sunny masih belum sadarkan diri. Sunny langsung dioperasi karena pembengkakan pada otaknya. Operasi memakan waktu 11 jam lebih. Operasi terhenti karena tekanan darah Sunny terus menurun. Walaupun operasi telah dihentikan, Sunny masih belum sadarkan diri dan tak ada perkembangan apapun. Bahkan nafasnya sempat berhenti tiga kali. Tetapi sampai saat ini, Sunny masih bisa bertahan.  Naomi mengalami luka cukup serius. Namun dia sadarkan diri setelah menjalani operasi beberapa hari kemudian. Mark mengalami patah tulang pada tangan kanannya dan Jackson mengalami patah tulang pada tangan dan kaki sebelah kirinya. Setelah operasi keduanya segera sadar. Sementara Joy dan Irene hanya mengalami luka ringan. Tapi, tragisnya Lami tewas ditempat kejadian. Joy, Irene, Mark, dan Jackson telah mengetahui bahwa Lami telah tiada. Tetapi tidak untuk Naomi. Naomi masih butuh istirahat yang banyak. Karena tidak ingin Naomi terlalu shock, belum ada yang berani memberitahunya. Sementara itu, Lami akan dimakamkan pada tanggal 5 September besok. Jenazahnya diletakkan di Rumah Sakit Anam. Setelah dikremasi, abunya akan diletakkan di sebelah abu ayahnya di Seoul, dekat dengan SOPA. Dulu rumah ayahnya didekat SOPA. Setelah menikah dengan ibunya mereka pindah ke tempat yang lumayan jauh dari Seoul tetapi daerah tersebut masih termasuk kota Seoul.
Ibunya begitu terpukul mendengar berita bahwa putri satu – satunya yang beliau banggakan telah menyusul ayahnya pulang ke pangkuan Tuhan. Ibunya langsung diantar paman Lami bersama beberapa keluarganya yang lain. Ibunya berusaha tegar melayani para tamu yang datang untuk memberikan penghormatan terakhir pada Lami.
                Langit Seoul sangat cerah hari ini. Tetapi sangat kelabu di rumah sakit Anam, tempat Sunny, Naomi, Mark, dan Jackson mendapatkan perawatan . Tangisan pilu memecahkan keheningan di koridor rumah sakit. Seorang wanita paruh baya berjalan menuju ruang ICU dengan dituntun berberapa orang. Wanita itu adalah ibu Sunny yang baru saja datang dari Jepang. Ketika ibunya memasuki ruang ICU, ia melihat Sunny yang terbaring lemas di ranjang dengan bebagai macam alat bantu agar Sunny tetap bertahan. Ibunya lansung mengamprir Sunny dan memegang tangannya dengan erat seakan tak mau melepaskan ananknya.
                “Nyonya, anda hanya boleh menemani Sunny selama 40 menit.” Kata dokter menjelaskan.
                “Apa anak saya bisa terselamatkan?” Tanya Ibu Sunny pada dokter. Dokter pun menghela nafas panjang. “Pembengkakan di otaknya sangat parah. Terlebih lagi tekanan darahnya terus menurun. Tetapi anak ibu cukup kuat. Ia mampu bertahan sampai saat ini,” kata dokter berusaha menghibur.
                “Aku ingin terus bersamanya,”kata ibu Sunny.
                “Ia akan menemuimu saat ia bangun nanti. Kau harus tetap kuat untuk bertemu dengannya nanti,” kata ayah Sunny yang berada disebelah ibunya.

***
                Tangisan Joy dan Irene pecah ketika peti yang membawa jenazah Lami akan dikremasikan. Mereka tak kuasa menahan air mata ketika keluar dari Rumah Sakit Anam. Setelah mendengar kabar bahwa salah satu sahabatnya telah pergi mendahului mereka, mereka langsung menangis sejadi - jadinya. Mark dan Jackson juga hadir ke pemakaman Lami walaupun setelah ini mereka harus kembali ke rumah sakit untuk kembali medapatkan perawatan. Jackson harus menggunakan tongkat untuk berjalan. Naomi tidak ikut karena memang belum ada yang berani memberitahunya. Ibu Lami jatuh berkali – kali karena tak sanggup menahan tubuhnya. Paman dan bibinya selalu berada disisi ibunya.
                Setelah dikremasikan, abu Lami pun dibawa ke tempat  dimana abu milik ayahnya berada. Tempat itu dipenuhi dengan banyak rak kaca yang di dalamnya ada sebuah guci untuk tempat abu – abu                        orang yang telah meninggal. Abu Lami diletakkan pada kotak kaca yang berada tepat di samping ayahnya. Kotak itu sedikit lebih besar daripada milik ayahnya karena seharusnya kotak itu berisi dua buah abu. Disamping abu Lami terdapat foto Lami ketika Lami masih kecil yang tersenyum cerah sambil memegang ice cream di suatu taman bermain. Didalamnya juga terdapat beberapa bunga untuk mempercantik kotak kaca tersebut.
   ***
                Sunny tiba – tiba berada disebuah ruangan yang berwarna putih. Semua putih, termasuk sebuah pintu yang berada di depan Sunny. Samar – samar, Sunny melihat sosok Lami didekat pintu tersebut sambil tersenyum ke arahnya. Senyum yang belum pernah dilihat Sunny sebelumnya. Senyum sangat cerah dan juga lembut. Lami kemudian melambaikan tangan pada Sunny dan akhirnya berbalik untuk memasuki sebuah pintu putih tadi.
                “Lami, kau mau kemana? Kenapa tidak mengajakku?” tanya Sunny heran. Lami berbalik dan tersenyum kemudian berkata, “Aku akan pergi ke tempat yang indah. Aku akan hidup bahagia disana. Sangat bahagia.“
                “Kita bisa pergi bersama. Bukankah kita sudah berjanji akan terus bersama sampai kapanpun? Aku pun sudah berjanji padamu untuk selalu menjagamu dimana pun dan kapan pun. Aku akan menepati janji itu. Ayo, kita pergi bersama,“ kata Sunny seakan tak mau ditinggalkan Lami. Tetapi Lami langsung menggelengkan kepalanya.
                “Tidak. Kau tak perlu iku denganku. Biarkan aku pergi sendiri kali ini,“ pinta Lami. Sunny tidak bisa membiarkan Lami pergi sendrian. Tanpa pikir panjang, Sunny langsung menghampiri Lami dan memegang erat tangan Lami.
                “Ayo. Kita pergi bersama ke tempat yang  kau bilang indah tadi. Walaupun kau melarangku untuk ikut denganmu, aku tetap akan pergi bersamamu,“ kata Sunny sambil tersenyum. Lami pun pasrah. Ia pun menuruti kemauan Sunny.
                “Baiklah, kita masuk ke pintu itu,” Lami menujuk pintu tadi. Mereka kemudian masuk kedalam pintu tersebut sambil tersenyum. Mereka berjalan menuju sebuah cahaya. Lama – kelamaan mereka berdua hilang, lenyap bersama dengan cahaya dan berubah menjadi kegelapan. Seiring dengan lenyapnya mereka, terdengar bunyi panjang dan datar yang membuat semua orang yang berada di ruang ICU merinding. Pandangan mereka pun beralih ke mesin pendeteksi detak jantung. Hanya ada garis hijau disana. Dan bunyi yang monoton yang tak diharapkan berbunyi.
                Semua yang berada dalam ruangan itu menangis sejadi – jadinya. Ibu Sunny menangis dan memanggil – manggil nama anaknya sambil memeluk tubuh Sunny berkali – kali. Dokter dengan cepat datang ke ruang ICU dan dengan sigap menyiapkan alat pacu jantung. Lalu menempelkan alat tersebut pada dada Sunny. Berkali – kali dokter mencoba memacu jantung Sunny. Berkali – kali juga tubuh Sunny seakan terperanjat ke atas. Tapi, tidak ada tanda – tanda detak jantung Sunny kembali. Dokter pun meletakkan alat  tersebut dan mengusap wajahnya menggunakan kedua tangannya. Sang dokter menghembuskan nafas panjang.
                “Tanggal 7 September 2014, pukul 10.10 KST, Sunny berpulang ke pangkuan Tuhan,” kata dokter sambil menundukkan kepala.Tangisan ibu Sunny pun semakin keras. Ia tak menyangka putrinya mendahuluinya pulang. Setelah perawat selesai melepas semua alat yang ada di tubuh Sunny, sang perawat pun menutup tubuh Sunny dengan selimut yang tadinya menyelimuti tubuh Sunny.

***

                Joy  dan Irene menjemput Naomi, Mark, dan Jackson ke kamar mereka untuk pergi ke tempat penghormatan terakhir Sunny. Naomi memang sudah mengetahui bahwa Sunny telah tiada, tapi dia belum mengetahui bahwa Lami sudah lebih dulu meninggalkan mereka. Mereka akan memberitahu Naomi saat di tempat penghormatan Sunny nantinya.
                Setelah melakukan penghormatan terakhir kali untuk Sunny, Mark pun berkata, “Sunny telah menyusul Lami ke tempat yang lebih indah disana. Aku percaya mereka akan selalu tersenyum di surga nantinya.“ Mata Naomi pun melebar dan langsung menoleh ke arah Mark.
                “Apa maksudmu Sunny telah menyusul Lami? Apa yang kalian sembunyikan dariku?“ tanya Naomi masih tidak percaya atas apa yang dikatakan Mark tadi. Irene pun mendekati Naomi yang masih duduk di kursi roda lalu merangkul bahu Naomi.
                “Naomi, dua sahabat kita sudah berpulang ke surga mendahului kita. Saat kejadian beberapa hari lalu, Lami meninggal di tempat. Tuhan pun tidak ingin memisahkan mereka berdua. Lalu Sunny pun menyusul Lami,”  kata Irene menjelaskan. “Dan kau tahu? Orang tua Sunny setuju, abu Sunny nantinya ditempatkan satu kotak bersama abu Lami,”lanjut Irene yang kemudian memeluk Naomi sambil meneteskan air mata. Tentu saja Naomi sangat terkejut. Ia memang menyadari setelah kecelakaan tersebut Lami tak pernah terlihat. Tapi tak sedikitpun terfikir olehnya jika Lami telah tiada. Naomi pun menangis. Isakan demi isakan terdengar di ruangan itu dan membuat Irene,Joy, Mark, dan Jackson ikut meneteskan air mata mereka. Dan ruangan itu dipenuhi dengan tangisan ke lima anak yang telah ditinggal dua sahabatnya tersebut.
               
***
                Di depan sebuah kotak kaca yang didalamnya berisi dua buah guci kecil dan dua buah foto anak kecil yang sama – sama sedang memegang ice cream itu, lima anak yaitu Irene, Joy, Naomi, Mark, dan Jackson hanya bisa menatap kosong. Mereka tiba – tiba rindu pada senyuman sosok Sunny dan Lami yang selalu menghiasi hari – hari mereka. Tiba – tiba ingatan Irene, Joy, dan Naomi melayang ke saat itu. Saat dimana kata – kata yang hanya dianggap sebagai candaan, berubah menjadi kenyataan yang pahit bagi semuanya.
***
                Malam itu hujan turun dengan derasnya. Lima gadis sedang berkumpul di kamar nomor 10 yaitu kamar Sunny dan Lami. Mereka sangat bosan saat itu. Tiba – tiba Joy mempunyai ide. “Bagaimana kalau kita bermain sesuatu,“ saran Joy. “Main apa?” Sunny pun bertanya pada Joy yang tengah memikirkan sesuatu. Tiba – tiba Joy melihat sebuah pensil tergeletak di meja bundar yang sedang mereka kelilingi. Joy  kemudian mengambil pensil itu dan memutarnya sambil berseru “Siapa yang akan mendapatkan pacar lebih dulu?” setelah pensil berputar,pensil itu pun berhenti dan ujungnya tertuju pada Irene.
                “Wahh.. Irene akan segera mendapatkan pacar,” kata Joy dengan senang. Lalu mereka pun tertawa. Permainan pun berlanjut. Berbagai pertanyaan muncul. Sampai akhirnya Naomi menyebutkan sebuah pertanyaan yang cukup membuat sahabat – sahabatnya terkejut.
                “Siapa yang akan mati lebih dulu?“ seru  Naomi. Saat akan memutar pensil yang dipegangnya, tangan Naomi pun dicegah oleh tangan Sunny.
                “Pertanyaan macam apa itu? Kita bisa menanyakan hal yang lebih baik, Naomi,“ jelas Sunny.
               “Heyy.. Ayolah ini hanya sebuah permainan. Tidak akan apa.” Elak Naomi yang kemudian memutar pensil tersebut. Betapa terkejutnya mereka. Ujung pensil itu mengarah tepat ke Lami. Tubuh  Lami pun terasa kaku. Nafasnya tercekat.. Ia takut dan tidak bisa berkata apa – apa. Sesaat kemudian suasana menjadi sunyi. Hanya terdengar suara hujan diluar sana. Sunny pun akhirnya memecah keheningan.
                “Sudahlah tidak apa – apa. Kau tidak akan mati lebih dulu. Kalau pun itu terjadi, maka setelah itu aku juga akan menyusulmu mati. Aku janji akan selalu menjagamu, Lami. Kau tenang saja,” kata Sunny sambil tersenyum. Lami hanya mengangguk pelan. Ia masih memikirkan pensil yang menunjuknya tadi. Ia hanya bisa berharap itu tak terjadi.
***
                Mengingat kejadian itu, Naomi pun tertuduk lesu di kursi rodanya. Ia sangat merasa bersalah. Ia tak menyangka permainan itu menjadi nyata dan membawa kenyataan pahit. Pahit sekali. Setetes air mata pun turun dari mata Naomi. Seakan tahu apa yang dipikirkan sahabatnya itu, Joy dan Irene merangkul Naomi.
                “Tidak apa – apa. Ini telah menjadi takdir Tuhan. Melakukan atau tidak melakukan permainan itu, ini akan tetap terjadi. Tak ada yang perlu di sesali. Kita masi berlima. Seterusnya berlima sampai maut memisahkan. Kita akan menjaga satu sama lain. Iya kan?“ kata Mark dengan bijak. Mereka tersenyum dan mengangguk.
Joy lalu mengeluarkan pensil dan menuliskan angka 10 pada kertas tersebut. Angka 10 adalah angka favorit Lami. Tanggal 3 Lami  meninggal,disusul Sunny pada  tanggal 7. Dan Sunny menghembuskan nafas terakhirnya pada pukul 10.10. Dan 3 ditambah dengan 7 akan menjadi 10. Sungguh, kebetulan yang sangat indah. Pensil yang digunakan adalah pensil yang mereka gunakan pada saat bermain waktu itu. Dan kertasnya adalah kertas dari buku diary Lami dan Sunny. Mereka lalu meletakkan pensil, buku diary dan kertas bertuliskan angka 10 tersebut di kotak kaca tempat abu Lami dan Sunny berada. Lalu mereka semua tersenyum diikuti dua sosok putih bercahaya dibelakang mereka yang sedari tadi melihat ke lima anak tersebut. Dan sosok itu adalah Lami dan Sunny yang tersenyum bahagia. Sangat bahagia. Walaupun senyum itu tak dapat dilihat kelima temannya lagi.    

                           


Cerita ini terispirasi dari kisah dua orang anggota girband Korea Selatan, Ladies Code yang bernama EunB dan Rise.
Disini EunB aku gambarkan sebagai Lami dan Rise sebagai Sunny.
Ladies Code mengalami kecelakaan pada tanggal 3 September 2014 lalu setelah melakukan show di Daegu, salah satu daerah di Korea dan merenggut nyawa EunB dan Rise.
Rise pernah berkata bahwa dia akan menjaga EunB sampai kapan pun, sama seperti cerita ini. Walaupun tidak semua sama tetapi inti dari kisah aslinya tetap sama. Yaitu “Persahabatan Sampai Akhir”
Aku berharap, baik EunB maupun Rise bisa bahagia bersama di surga.

RIP
Go EunBi (23 November 1992 – 3 September 2014)
 Kwon Rise (16 Agustus 1991 – 7 September 2014)



Dian Ayu Fitriani