Senin, 03 November 2014

Letter (Cerpen)




Letter

Sore hari yang mendung, seperti biasa, Kristal masih menggenggam penanya mencoret coret lembaran putih di depannya dengan bertubi tubi. Mulutnya komat kamit mengulang ulang angka dan formula yang membuka lembaran arsip yang ia kumpulkan dalam suatu folder bertuliskan ‘Logic and Mathematic’ di otaknya. Keningnya berkerut seakan mengencangkan ototnya karena berkontraksi tanpa henti dalam dua jam terakhir. Otaknya mungkin hampir berbentuk sixpack karena soal soal matematika ini. Namun anehnya, Kristal menyukai rasa pening yang dibuat oleh logika logika ala Bleise Pascal dan Khwarizmi yang ia geluti itu. Profesinya sebagai  mahasiswa matematika memang memberikan sensasi tersendiri. Meracuni di satu sisi, dan menyegarkan di sisi lain.

Belum puas Kristal menginjeksi otaknya dengan ilmu yang melelahkan itu. Ia mendengar ada seorang wanita paruh baya yang memanggil namanya nyaring. Wanita itu tak lain adalah Ibu Kost tempat ia tinggal sekarang. Ibu itu berperawakan gemuk seperti kendang jawa dan bersuara melengking seperti seruling sunda. Perpaduan yang memerahkan mata dan memekakkan telinga. Dan yang paling dasyat, dialah pemilik kemarahan paling mengerikan di kompleks.

“Iya Bu,” Kristal keluar dari kamarnya yang penuh dengan angka imaginer dan terjun ke kenyataan bahwa manusia yang tak memiliki persediaan kesabaran yang banyak menunggunya di depan pintu.

“Ini surat untukmu!” Ibu Kost Kristal sekonyong konyong menyerahkan dua pucuk surat yang terbungkus dalam amplop putih tepat setelah Kristal membuka pintu. Seakan akan tak mau berlama lama lagi menyia nyiakan kesabarannya untuk berbincang dengan gadis muda yang telah membiarkan pita suaranya menegang 10 detik yang lalu.

Kristal masuk ke dalam ruangan pribadinya lagi. Menutup pintunya rapat rapat untuk menghindar dari gerutuan wanita sangar yang tadi ditemuinya. Perhatiannya kini tertuju pada dua pucuk surat yang ada di tangannya. Surat pertama beramplop putih bersih bertiskan “Teman alienmu, from the moon.” Kristal tersenyum, sudah jelas siapa pengirimnya, orang itu adalah orang yang tak pernah bisa ia singkirkan dari otaknya. Orang itu sudah jelas punya singgasana tersendiri di tatanan indah hatinya. Ia membuka surat itu, seperti biasa basa basi dan kabar kabari. Tak ada yang spesial. Namun bagi Kristal itu sama berharganya dengan menemukan bongkahan emas 24 karat di dalam bungkus permen.

Kristal memandang surat kedua dengan senyum yang belum hilang dari wajahnya. Surat itu sangat wangi dan terlihat sangat istimewa. Amplopnya indah dengan motif timbul yang artistik dan warna krem yang manis. Dan diatasnya bertuliskan “Untuk Kristal, dari temanmu dan jantungnya yang meledak ledak” Kristal tersenyum namun kemudian mengerutkan keningnya. Ia tahu persis kalau ini dari orang yang sama dengan surat sebelumnya. Namun kenapa dia harus mengirim dua surat sekaligus? Istilah jantung yang meledak ledak juga memunculkan ribuan  hipotesa aneh dalam pikiran Kristal.

Kristal membuka amplop itu. Entah kenapa, tangannya lamban, seakan akan seluruh tubuhnya menolak untuk membuka surat itu. Perlahan ia membukanya, melawan semua simpul saraf yang bersikeras memberontak pada tuannya. Ia membacanya sekilas. Benar saja, kepalanya pening, matanya melotot sendu, tangannya melemah, perlahan surat itu melepaskan diri dari genggaman Kristal. Seakan tak ingin ikut merasakan sakit yang bisa saja menjalar seperti kabel listrik di dalam air sungai. 

Membakar, menghanguskan.

Arkhan and Dita

Will be married in . . . .

Tak pernah terbayangkan oleh Kristal ia akan membaca kalimat semacam itu. Kalimat yang serta merta membekukan setiap mililiter darahnya. Kalimat yang membakar tiap inci tali tali syarafnya. Kalimat itu telah meluluh lantakkan sistematika yang tersusun rapi di otak Kristal. Meruntuhkan singgasana indah di hatinya. Dan puncaknya, melenyapkan pengendalian dirinya hingga air mata bertubi tubi menetes dari pelupuk matanya. Cinta pertamanya, satu satunya cinta yang ia tahu di hidupnya, telah pergi dan berbahagia.

***

Hidup ini seperti suatu padang pasir yang tenang dan berangin namun menyimpan ribuan ranjau yang siap mengejutkan jantung. Hidup Kristal yang tenang itu, dibumi hanguskan oleh sepucuk surat yang tak diharapkan. Semua terjadi begitu saja, pertemuan mereka dulu dan perpisahan virtual ini. Hidup dan kisah cinta tidak semudah merestart permainan yang telah kalah.

Kristal masih belum beranjak dari ranjangnya padahal jam dinding di depannya sudah menjejakkan jarum pendek di angka 9. Ia memikirkan obrolannya dengan Kenta kemarin.  Di kedai kopi tempat favorit mereka itu, Kristal mengungkapkan hal yang menyebabkan matanya sembab pagi itu.

“Kamu nggak usah pergi aja, bilang kalau lagi sakit atau apapun,” kata Kenta setelah menyeruput sedikit kopi Americano dari cangkirnya.

“Nggak mungkin, kita sudah berteman lama.” Kata Kristal yang matanya yang kosong  masih belum bisa beranjak dari secangkir kopi Arabika di hadapannya.

“Terus, rencananya gimana?”

Kristal hanya menggeleng tanpa tenaga, dia sama sekali tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Otaknya sudah terlalu kering karena menangis semalam tadi.

“Kristal, wake up! Sekarang kamu harus pilih, pura pura sakit atau beneran sakit gara gara lihat pangeran berjubah putih kamu itu menikah sama orang lain?”

“Seandainya ada pilihan yang lain, aku akan milih amnesia detik ini juga.”

“Oke, You have been crazy.” Kenta menyandarkan punggungnya sebal di sofa tempat duduknya dan membuang mukanya dari Kristal. Ia benar benar tidak bisa memahami sahabatnya ini. Kristal bukanlah orang yang cukup melankolis untuk menjadi gila seperti ini. Dia adalah pribadi yang bahkan menganggap omelan ibu kostnya yang berderet seperti kawanan semut yang berbaris itu perkara gampang.

Kristal masih terduduk di ranjangnya, benar benar tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Kepalanya beku, ia seperti orang dungu. Di dalam hatinya, ia terus menerus bertanya tanya. Apa yang harus kulakukan? Apa yang akan kulakukan? Apa yang akan terjadi setelah aku melakukannya? Tidak ada jawaban, ia tidak mendengar hal lain selain pertanyaannya sendiri yang mengiang mengelilingi kepalanya seperti dengungan nyamuk betina haus darah.

Ia merebahkan tubuhnya di tempat tidurnya yang sekarang terasa tak nyaman lagi. Bukan kerena tempat tidurnya yang berubah, tapi hatinya yang berubah, impuls positif yang dulu berlimpah di sekujur tubuhnya sudah lenyap entah kemana. Ia menatap langit langit ruangannya, berharap di sana ada sebuah bintang jatuh yang mau mengabulkan permintaan untuk menghapus hari ini.

Kristal baru saja akan memejamkan matanya, berpura pura tidur agar tidak harus pergi ke pernikahan yang tidak ia harapkan itu. Melupakannya dan tertidur sampai besuk pagi dan lalu berpura pura tidak tahu kalau hari ini pernah ada. Namun rencana itu tergagalkan oleh sebuah suara mengganggu dari handphonenya. Kristal bangkit dan langsung meraih benda yang cukup berisik itu. Ia langsung membeku begitu membaca nama yang tertulis di layar handphonenya. Arkhan, manusia yang paling ia kagumi itu menelponnya.

“Halo,” suara Kristal yang melemah itu mengawali pembicaraan ini.

“Kristal, undangannya sudah sampai kan?”

Rasanya ia ingin sekali berkata bahwa ia tidak pernah menerima undangan apapun dan menutup telepon itu. “Sudah,” namun Kristal memang tak pernah bisa berbohong pada orang itu.

“Ah, syukurlah. Maaf, aku tidak pernah menelponmu, aku terlalu sibuk mempersiapkan semuanya.”

Kristal diam, dia tidak menyangka, seorang Kristal yang dulu adalah hal terpenting di hidup Arkhan, sekarang terkalahkan. Ia hanya tersenyum pahit.

“Oh, iya, kamu nanti datang kan? Jangan jangan kamu lupa kalau acaranya jam 1 nanti.”

Kini giliran Kristal yang membeku. Ia sama sekali tak tahu bagaimana harus menjawabnya. Ia terdiam, sesaat, dan waktu tak berhenti berjalan. Ia benar benar berharap ada suatu mukzizat yang bisa menyelamatkannya. Kedunguan dalam dirinya serasa memuncak. Ngiangan suara Kenta dan Arkhan mengalir dalam kepalanya sekaligus, seperti lolongan anjing yang membuatnya takut setengah mati.  - Kamu nggak usah pergi aja, bilang kalau lagi sakit atau apapun -  Kristal, undangannya sudah sampai kan? - Sekarang kamu harus pilih, pura pura sakit atau beneran sakit gara gara lihat pangeran berjubah putih kamu itu menikah sama orang lain? - Kamu nanti datang kan? Jangan jangan kamu lupa kalau acaranya jam 1 nanti – Suara suara itu terus menerus beresonansi di ruang sempit ini. Hingga akhirnya suara itu berganti menjadi suara seorang lelaki yang terus memanggil Kristal.

“Kristal, Kristal, kamu masih disana kan?”

Kristal tersadar, ia tersentak dan melepaskan diri dari suara suara misterius tadi. “Hemm,” ia menjawab singkat.

“Kamu datang kan?”

Pertanyaan itu dilontarkan kepadanya lagi. Dan kali ini, pernyataan itu mampu membangunkan kesadaran dan logika otak Kristal yang telah terlelap sejak datangnya surat itu. Kristal kini menyadari kalau dia memang ditakdirkan untuk bertemu dengan hari ini. Meskipun bukan hari yang ramah, tapi tetap harus dijamah. Ia tak akan terlewati jika Kristal tak  melangkah di atasnya. Ia menarik nafas dalam, sangat dalam, menghembuskannya pelan agar setidaknya sakitnya bisa berkurang sedikit seandainya ia menyesali keputusan ini di hari lain. “Aku akan datang.” Ia berkata seakan ia memiliki puluhan hati untuk mengganti hatinya yang mungkin saja remuk beberapa jam lagi.

“Syukurlah, aku kira kau akan marah padaku karena tidak memberi tahumu sebelumnya. Aku tidak yakin acara ini akan berkesan kalau kau tak ada. Kau sudah seperti adikku sendiri.” -Arkhan, keluarga Dita sudah datang – Terdengar suara seorang wanita memanggil Arkhan di ujung sana. “Iya, sebentar. Sepertinya keluarga calon istriku sudah datang, aku harus segera menyapa mereka. Sampai jumpa nanti,”

Kristal menutup telpon itu. Ia masih teringat perkataan Arkhan tadi “Kau sudah seperti adikku sendiri.” Ternyata begitu, ia hanya menganggap Kristal seorang adik, semua perhatiannya tak lebih dari perhatian seorang kakak pada seorang adik. Kristal hanya termenung, meratapi kenyataan bahwa cinta pertamanya selama ini hanya ilusi yang dibuat oleh kepalanya sendiri. Kristal merasakan  lagi kebodohan otaknya, lagi dan lagi.

***

Waktu  bukanlah hal yang cukup baik hati untuk memberikan toleransi. Waktu akan terus melangkah dan menjelajah, mengombang ambingkan kehidupan manusia. Mempertemukan banyak pihak yang memang harus bertemu. Dan Kristalpun tak lepas dari gelombang waktu, yang dengan paksa mempertemukannya dengan pesta ini. Sesuatu yang memang harus bertemu.

Kristal kini berdiri tepat di depan gedung pernikahan Arkhan. Ia tak kuat melangkah, membayangkan apa yang akan ia hadapi di dalam gedung ini membuat otot kakinya melemah. Ia menengadahkan kepalanya, menatap langit biru, menatap awan awan yang bergerombol seperti domba domba yang bercengkrama. Mereka cerah, mereka berbahagia.

Kristal berjalan, selangkah, dua langkah, langkah yang berat. Ia memasuki gedung tinggi bercat putih bersih itu. Di dalam gedung, mata Kristal menjelajah, yang  ia tangkap adalah ornamen pernikahan yang berwarna putih dan bunga bunga putih yang menghias seluruh ruangan. Sangat indah.

Apa aku satu satunya orang yang sedih disini? Apa hatiku satu satunya area yang diterjang badai? Apa aku satu satunya yang kelabu? Cinta pertamaku hilang, dan aku kelabu. Salahkah?

Kristal berjalan, menuju dua orang yang berwajah paling cerah hari ini. Mereka duduk berdampingan dan selalu menyunggingkan senyum ke semua orang. Kristal menarik nafasnya dalam. Ia berpikir, apakah gaun biru yang dipakainya bisa menyembunyikan kelabu di hatinya, dan apakah senyum palsu ini cukup untuk menjadi topeng bagi hatinya.

Kristal sampai di pelaminan, ia tak mengucapkan apapun. Hanya senyum palsu itu yang bisa ia berikan. Juga sepasang pelukan khusus bagi mempelai laki laki dan pasangannya. Arkhan menatapnya heran, namun baginya, hari ini terlalu indah untuk menanyakan keanehan dan badai yang melanda teman kecilnya itu.

Aku hancur,

Kristal segera meninggalkan pelaminan yang meracuninya itu. Ia berjalan menjauh, dan jauh, semakin jauh. Agar Arkhan tak bisa mendengat ledakan ranjau yang telah ia injak di padang pasir hatinya.

Kau bahagia? Cinta pertamaku, apakah kau bahagia? Haruskah aku berbahagia untukmu? Maaf, tapi itu sama sekali tidak mudah. Mungkin kau akan menceramahiku seperti biasa dan berkata bahwa hidup tidak berpihak pada siapapun, aku tahu. Dan aku menemukan fakta baru, bahwa hidup memang tidak berpihak pada siapapun, tapi waktu selalu berpihak sesuai kehendaknya. Dan hari ini waktu berpihak pada kalian. Aku iri. Tapi aku yakin, bahwa ia akan berpihak padaku, di lain waktu. Mempertemukanku dengan keping yang hilang itu.

Kristal meneteskan air matanya. Hari ini ia belajar hal baru, bahwa kehilangan, bukan hanya berarti melepaskan, tapi juga menerima. Dan kehilangan ini, berarti ia menerima kesempatan untuk menemukan hal hal  mengejutkan yang membuat waktu berpihak padanya.


-END-



Gimana ceritnya?
Menarik?
Semoga Bermanfaat ^^

by : Dian Ayuningtyas