Senin, 03 November 2014

Terima Kasih Atas Kenanganmu (Cerpen)



Aku masih memandangi setiap lekuk wajahnya. Memandangi betapa seriusnya ia memainkan gitarnya. Orang yang aku kagumi sejak aku duduk di bangku kelas 3 SMA. Orang yang cukup berbakat dalam bermain gitar. Orang yang menjadi teman curhatku sejak kita sama – sama masuk ke kelas 12 A . Dan orang yang menghiasi hidupku dengan alunan lembut gitar yang di mainkannya.
                Tiba – tiba dia menoleh ke arahku. Ketika mata kami bertemu aku cukup terkejut dan akhirnya dengan cepat kualihkan pandanganku ke arah lain. Dia hanya tersenyum lalu fokus kembali pada jari – jarinya yang terus memetik gitarnya. Lalu dua teman laki – lakinya tiba – tiba muncul, meneriakkan namanya.
                “Jenooo…!!!” seru dua orang laki – laki tersebut. Benar sekali, namanya Jeno. Dialah yang mecuri hatiku ketika pertama kali aku masuk ke kelas 12 A ini. Kemampuannya bermain gitar membuatku kagum saat aku melihatnya pertama kali di kelas ini. Kemudian kami saling berkenalan dan pada akhirnya menjadi teman yang cukup akrab. Dia banyak bercerita padaku tentang para mantan yang telah ditinggalkannya dan beberapa dari mereka masih da yang di sukainya. Dia belum mengetahui bahwa aku mengangguminya. Dan pasti rasa kagum itu sebentar lagi akan berubah menjadi rasa suka, lalu berubah menjadi rasa sayang. Aku sudah memberinya banyak kode agar dia tahu apa yang aku rasakan. Tapi sampai sekarang dia belum bisa merasakannya.
                “Iya, ada apa,” tanya Jeno ringan pada teman yang memanggilnya tadi. Sejenak ia menghentikan bermain dengan gitarnya. Lalu berbincang – bincang dengan temannya tersebut.
                “Sebentar lagi ada lomba band disekolah kita. Dan aku yakin pasti band kita yang akan di tunjuk,” kata salah seorang temannya yang bernama BamBam. “Lalu?” jawab Jeno singkat.
                “Yang menjadi permasalahan vokalisnya harus wanita!! Sedangkan aku, kau, dan BamBam adalah laki – laki!!” kata laki – laki yang bernama Danny tersebut dengan sedikit emosi. Jeno memang memiliki sebuah band yang sampai saat ini belum diberi nama. Jeno bertugas bermain gitar dan vokal, Danny juga memegang gitar, dan BamBam kajon, sesuai dengan postur tubuhnya yang cukup berisi. Sekolah memang akan mengadakan lomba band untuk memperingati ulang tahun sekolah. Dan harus bergenre akustik. Cocok dengan genre band mereka. Mereka bingung karena vokalisnya harus perempuan. Sedangkan mereka semua laki – laki.

                Di kelas hanya ada aku yang terlihat sibuk membaca novel tetapi sebenarnya aku mendengarkan pembicaraan mereka yang tak jauh dariku. Lalu tiba – tiba BamBam melirik ke arahku. “Krystal!!! Krystal memiliki suara yang lembut. Kalian ingat ketika Krystal bernyanyi di depan kelas saat pelajaran seni musik waktu itu bukan?”teriak BamBam. Aku sangat terkejut. Suaraku tak selembut yang mereka bayangkan. Tetapi mengapa BamBam memilihku?
                “Apa?” kataku pura – pura tidak tahu.
                “Benar juga,” kata Danny lalu menghampiriku dan di ikuti Jeno dan BamBam. “Heyy Krystal. Kau memiliki suara yang cukup bagus. Apa kau mau menjadi vokalis band kami untuk ikut lomba minggu depan?” lanjut Danny.
                “Apa kalian gila?!! Suaraku tak sebagus yang kalian bayangkan!!” kataku mengelak. Jeno kemudian duduk di kursi kosong sebelahku.
                DEG.. Jantungku seakan berhenti berdetak. Dia lalu menatapku dengan lembut. Tatapan itu membuatku seakan menjadi es yang telah meleleh.
                “Aku percaya padamu kau bisa. Tolonglah. Hanya demi kelas kita,” kata Jeno lembut. Sangat lembut. Aku pun pasrah dan menerima tawaran mereka.
                “Baiklah. Kita mulai latihan hari ini sampai sehari sebelum lomba dilaksanakan. Pulang sekolah nanti kita latihan di studio musik di rumahku. Kau tahu rumahku kan, Krystal?” Tanya Danny. Danny memang dari keluarga yang kaya. Dia bahkan memiliki studio musik sendiri dirumahnya untuk berlatih bersama Jeno dan BamBam.
                “Aku belum tahu rumahmu,” kataku jujur.
                “Tak apa. Kau bisa membonceng denganku nanti,” kata Jeno menawarkan. Oh God. Mimpi apa aku semalam? Kenapa hari ini begitu menguntungkan bagiku? Tentu saja aku menerima tawaran Jeno tadi dengan anggukan pasti.

***

                Sesuai dengan kesepakatan tadi, aku pun berangkat menuju rumah Danny dengan membonceng Jeno. Selama perjanan hatiku terus berdegup kencang seakan mau meledak. Aku ingin segera sampai agar jantungku ini kembali berdetak secara normal. Tetapi di sisi lain, aku masih ingin bersama Jeno. Dia mengendarai motornya dengan santai. Tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat.
                Sesampainya di rumah Danny kita langsung bergegas latihan. Lagu yang kita pilih adalah lagu dari band Padi dengan judul “Sempurna” tetapi kita aransemen ulang agar menjadi alunan musik yang akustik. Jeno sangat pandai dalam bermusik. Tak sampai satu jam, irama kami pun jadi.
                Setelah selesai berlatih, aku pun pulang dengan di bocengi Jeno lagi. Sungguh, hari ini adalah hari yang indah untukku. Sesampainya di depan rumah, aku segera turun dan berkata pada Jeno, “Terimakasih untuk hari ini, dan terimakasih untuk tumpangannya.” Jeno menatapku dan mengangguk.
                “Sama – sama. Selama latihan kau sangat serius tadi. Aku suka caramu bernyanyi. Sangat baik,” kata Jeno memuji.
                “Ahh, tidak. Kau tidak perlu memuji seperti itu,” kataku. “Sudahlah. Hari hampir malam. Sebaiknya kau segera pulang dan beristirahat. Hati – hati saat mengendarai nanti. Jangan ngebut,” kataku mengingatkan. Dia mengangguk dan tersenyum kemudian pergi meninggalkanku.
                Setelah selesai mandi, aku membuka laptop dan menulis sesuatu di blog pribadiku. Blog ini sudah seperti diary bagiku. Setiap aku mengalami sesuatu yang menarik atau hal – hal lainnya, aku biasa menumpahkan perasaanku di blogku. Termasuk tentang Jeno. Hari itu aku menulis :


                15 Agustus 2014
                Terimakasih Tuhan telah memberikanku banyak kebahagiaan untukku hari ini. Tatapannya yang lembut membuat hatiku meleleh sepeti sebuah ice cream yang terkena panasnya sinar matahari. Caranya mengendarai motor membuatku nyaman bersamanya. Entah mengapa, aku merasakan sesuatu yang beda hari ini. Sesuatu yang membuat hatiku bergedup tak karuan. Dan sepertinya, rasa kagum itu akan berubah menjadi sesuatu yang lebih. Lebih dari sekedar kagum seperti biasanya.

                Hanya kata – kata singkat yang dapat kutuliskan hari itu. Aku tak tahu bagaimana cara mengungkapkan perasaanku yang terlalu bahagia ini. Karena lelah, aku pun memustuskan untuk tidur dan berharap dapat memimpikannya.

***

                Hari yang kami nantikan tiba. Hari dimana aku, Jeno, Danny dan BamBam tampil di depan banyak siswa di sekolah. Kami pun telah memutuskan nama untuk band kami yaitu, “Fly to the Sky”. Aku yang menberikan nama tersebut. Dengan harapan band mereka sukses di masa depan seperti burung yang dapat terbang tinggi ke angkasa. Aku hanya sebagai vokalis sementara di band ini. Aku tidak mau terus ikut dalam band tersebut tanpa ada alasan yang jelas.
Dan penampilan kami sukses. Dan kesuksesan tersebut membawa aku dan tiga temanku tersebut menduduki juara pertama. Betapa bahagianya kami hari itu. Untuk merayakan kesuksesan, kami mengadakan makan malam di sebuah café kecil. Walaupun hanya perayaan kecil – kecilan, tapi itu sudah membuatku bahagia. Sangat bahagia seperti terbang ke angkasa yang bebas. Di tengah makan malam itu, tiba – tiba Jeno mendapat telfon dari seseorang. Dan sepertinya itu perempuan. Aku mecoba mendengarkan pembicaraan mereka.
“Tentu saja sayang. Setelah ini aku akan menjemputmu…. Tenang saja, ini tak akan lama. Besabarlah sedikit, ok?” kata Jeno sambil memegang ponsel yang berada di telinganya. Dunia seakan berhenti berputar. Pandanganku menjadi kabur dan telingaku tak dapat mendengar dengan baik seperti tadi. Apa yang aku dengar tadi? Kata “Sayang” untuk siapa? Menjemput siapa? Mengapa cara berbicaranya sangat berbeda dari biasanya?
Belum terjawab semua pertanyaan yang melayang di benakku, Jeno kembali duduk bergabung denganku, Danny, dan BamBam.
“Elly ya? Pacar barumu” goda BamBam. Jeno hanya mengangguk dan tersenyum cerah.
                “Ahh aku lupa memberitahu Krystal tentang pacarmu itu,” kata Danny. “Heyy Krystal!!” panggil Danny dan membuyarkan lamunanku. “Ohh iya.. Ahh aku sudah dengar tadi. Selamat atas pacar barumu, Jeno,” kataku dengan senyuman pahit yang membuat hatiku terasa seperti teriris – iris. Sakit sekali. Lalu, Jeno berdiri dan berkata, “Krystal, bisakah kita bicara di luar sebentar?” pinta Jeno. Aku hanya mengangguk lalu mengikutinya keluar café. Mungkin ini saatnya aku menerima kenyataan terpahit di hidupku.

 ***

                “Maafkan aku,” kata Jeno dengan nada menyesal dan yang membuat hatiku semakin perih dan membuat mataku memanas. “Aku sudah membaca semua yang ada di blog pribadimu. Semua ceritamu tanpa terkecuali,” lanjutnya. Jangan!! Jangan menangis di sini. Aku mohon. Tahan sebentar sampai dia selesai berbicara.
                “Maaf. Aku sangat minta maaf karena aku hanya bisa menganggapmu sebagai sahabatku, dan tidak lebih. Cintamu datang terlalu lambat. Aku telah jatuh di hati orang lain. Sekali lagi tolong maafkan aku,” kata Jeno lalu menunduk. Air mataku tak bisa kubendung lagi. Air mataku mengalir dengan bebasnya di pipiku. Benar saja. Aku harus menerima kenyataan pahit ini. Aku tidak dapat berbuat apa – apa lagi. Air mataku semakin deras mengalir. Ingin aku menjawab perkataannya tadi. Tetapi aku tidak bisa. Mulutku seakan terkunci dengan rapat sampai – sampai aku tak bisa berkata – kata. Bahkan tangisanku hanya seperti isakan – isakan yang tidak jelas. Semua sudah terlambat. Tak ada yang bisa mengubah semua kenyataan ini. Jeno pun pergi dan meninggalkanku yang masih berurai air mata di depan café itu.

***
                22 Agustus 2014

Hari itu aku menyadari bahwa aku bukanlah siapa – siapa kecuali hanya sebagai sahabat baginya. Ya, sahabat.  Dan tidak lebih. Aku terlambat satu langkah. Aku seharusnya memberitahunya lebih awal tentang perasaanku ini padanya. Rasanya seperti terbang tinggi sekali. Lalu dihempaskan kembali ke bumi dengan sangat keras. Sampai benar – benar hancur berkeping – keeping.
 Tetapi apakah manusia dapat merubah kenyataan? Sepahit apa pun, kenyataan itu harus kita terima dengan lapang dada. Terimakasih telah hadir dan turut serta mengisi cerita hidupku. Dan terimakasih atas kenangan – kenangan manismu. 
Berbahagialah dengan kekasih barumu. Jaga dia. Jangan pernah sakiti dia dan jangan pernah membuatnya menagis. Selalu buat ia tersenyum seperti dulu kau membuatku tersenyum. Teruskan hubungan kalian sampai suatu hari nanti, aku akan mendapat sepucuk undangan dari kalian berdua yang akan bertuliskan:
Jeno & Elly
Will be married on….

Itu adalah hal terakhir yang aku post di blog pribadiku. Dan setelah itu, aku tak pernah membuka blog ku lagi. Sampai kapan aku pun tak tahu.




 by : Dian Ayu Fitriani