Sabtu, 16 Mei 2015

Review Novel Rindu -Tere Liye-



Hallo kawan, aku harap kawan-kawan dalam keadan baik dengan senyum mengulum di wajah nan ceria. Karena, disinipun sama.

Alkhamdulillah setelah lama menunda untuk menyelesaikan membaca akhirnya selesai juga satu buku *(jangan kira ini buku penuh dengan angka dengan istilah matematik disana, ini buku indah yang pernah aku baca –novel-). Judulnya sederhana, tapi isinya mengagumkan ‘tres bien’. RINDU, itu judul novelnya. Sebagian besar kita akrab dengan penulisnya, Tere Liye. Aku menyukai prinsip-prinsip kehidupan yang beliau sampaikan lewat tulisan-tulisan yang beliau tulis. Indah dan mudah dimengerti.

—Kakak terima kasih untuk bukunya :)

Kali ini aku ingin berbagi tentang uraian singkat tentang buku ini. *(hhihi, bilang aja ini latihan mereview novel oleh penulis amatiran :D

Awalnya aku hendak segera menyelesaikan membaca, namun karena berkutik dengan tugas sebagai siswa di tahun terakhir alhasil novel itu terkalahkan oleh tumpukan buku yang lain. *(Waduh malah jadi curhat, kapan reviewnya? --‘’)*

Untuk awalan aku mengutip keterangan di sampul novel :

“Apalah arti memiliki,
ketika diri kami sendiri bukanlah milik kami?

Apalah arti kehilangan,
ketika kami sebenarnya menemukan banyak saat kehilangan,
dan sebaliknya, kehilangan banyak pula saat menemukan?

Apalah arti cinta,
ketika kami menangis terluka atas perasaan yang seharusnya
indah? Bagaimana mungkin, kami terduduk patah hati atas
sesuatu yang seharusnya suci dan tidak menuntut apa pun?

Wahai, bukankah banyak kerinduan saat kami hendak
melupakan? Dan tidak terbilang keinginan melupakan saat
kami dalam rindu? Hingga rindu dan melupakan jaraknya
setipis benang saja.”

Ini adalah kisah tentang masa lalu yang memilukan. Tentang kebencian kepada seseorang yang seharusnya disayangi. Tentang kehilangan kekasih hati. Tentang cinta sejati. Tentang kemunafikan. Lima kisah dalam sebuah perjalanan panjang kerinduan.


Pertama kali mendengar judul RINDU maka istilah itu telah terlintas dibenak kita, makna dan arti. Seperti diluar kepala, apa ada yang sedang rindu disini? Mana suaranya yang sedang rindu?

Terkadang rindu itu lebih parah dengan sebuah penyakit. Bahkan kita bisa merasa kesepian ditengah-tengah keramaian. Kekosongan hati, dan itu cukup untuk mengganggu aktivitas. Raga yang sakit bisa segera disembuhkan, namun kerinduan? Dia membutuhkan pemahaman yang baik untuk menyembuhkannya.

Novel ini bercerita tentang perjalanan panjang masyarakat Nusantara untuk menyampaikan kerinduan pada Sang Pencipta ke Tanah Suci, Masjidil Haram. Selayaknya setiap perjalanan akan dipenuhi dengan pertanyaan demi pertanyaan. Satu dua tiga kita bisa menemukan jawabannya dengan mudah namun sisanya kita perlu membolak balik kacamata kita untuk menemukan jawabannya. *(kacamata bisa dibolak-balik? --“)*

Puluhan tahun lalu saat tentara Belanda ada dibelahan pulau Nusantara, pergi haji adalah sebuah perjalan panjang membutuhkan waktu berbulan-bulan dengan menggunakan kapal.

Untuk kawanku yang hendak berbagi ilmu dengan sesama *(ingin menjadi guru)* novel ini referensi yang baik dibaca saat waktu luang melanda. Disini kita mengerti bahwa belajar bukan semata untuk sebuah nilai diatas kertas, tidak hanya sekedar menjelaskan dan mengerti. Kawan, nasib bangsa ini ditentukan dari kalian. Terlebih dari seorang guru. Karena satu guru yang baik bisa membuat perpuluh-puluh bahkan ratusan murid yang akan mengubah bangsa ini menjadi bangsa yang lebih baik. Semangat ^^

Ada yang tertarik dengan perkapalan? Di novel ini tak hanya kisah-kisahnya yang menarik namun juga dibumbui oleh pemahaman dan ilmu pengetahuan umum yang jarang disebarluaskan ke kalayak umum. Tentang perkapalan, sejarah Nusantara, bahkan pengetahuan umum dan pengetahuan alam ada disana. Ini bukan sekedar cerita sederhana tentang perjalanan. Ini tentang cerita perjalanan panjang yang mengesankan.

Masa lalu?
Cinta sejati?
Kebagiaan sejati?
Kehilangan kekasih hati?
Kemunafikan?

Jika kawan memiliki pertanyaan tentang itu, novel Rindu mengupas lebih jauh tentang untaian penjelasan untuk semua pertanyaan itu.

Pepatah lama bilang, buku adalah jendela dunia. Namun dunia ini terlalu indah untuk dinikmati dari jendela. Karena itu review ini hanya secuil penjelasan dari keindahan novel Rindu, untuk lebih detailnya kita bisa membacanya sendiri lembar demi lembar novel Rindu tersebut. Selamat Membaca

Semoga review abal-abalan ini membantu kawan-kawan semua yang hendak mencari buku untuk teman saat rindu melanda? *ehh

Salam rindu :)


xoxo