Selasa, 30 Juni 2015

Aku Belajar Percaya, Percaya Pada Waktu #SeminarKepenulisan #TereLiye



Aku belajar untuk percaya, percaya bahwa waktu akan menemukan jalan untuk menyembuhkan luka yang terbuka, menganga meninggalkan rasa perih.

Entah, aku mencoba sebisa yang aku bisa melakukan hal mendasar (syarat) untuk mengikuti seminar kepenulisan esok tanggal 27 Juni 2015. Ya, Seminar Kepenulisan di Universitas Gadjah Mada dengan pembicara “the best writer today” Tere Liye. (sosok dengan memahaman  —prinsip-prinsip kebaikan—  indah dalam setiap karya yang beliau tulis)

Untuk beberapa hari setelah aku berhasil mengirimkan artikel (tema bebas) ke email yang tercantum, hatiku gusar. Kacau! Bak kepingan kaca yang pecah di lantai. Kemana aku harus konfirmasi? Setidaknya aku perlu kepastian aku diterima atau tidak untuk menjadi peserta seminar? Karut-marut, ilusi dalam benakku memegang kendali. Banyak kemungkinan yang terpikirkan, yang semakin membuat hatiku gusar. Selingan aktivitas sehari-hari di rumah sedikit berperan untuk membantuku memegang kendali di ‘Overthinking Zone’.

“Sebagian besar kesedihan kita sekarang hadir karena ilusi yang kita ciptakan sendiri.”
Aku mendengar sosok terdalam dari diriku menyadarkanku. Aku tidak bisa terus membiarkan diriku terjebak dalam labirin overthinking, aku yang memutuskan sendiri untuk masuk kedalam. Dan kini aku sendiri yang harus menuntun diriku untuk keluar dari labirin buntu ini.

Ikhlas.


Aku membiarkannya pergi. Apa-apa yang kita miliki adalah titipan dari Sang Maha Kuasa. Hatiku gusar, tapi aku mencoba percaya. Percaya dan percaya. Allah menyimpan rahasian indah di balik semua ini. Aku percaya ada rahasia indah saat aku diberi ijin dari-Nya untuk mengetahui pamflet tentang acara seminar itu. Aku gusar, sangat gusar. Tapi aku percaya. Aku percaya, semua akan indah.

Terkadang membiarkannya pergi adalah cara terbaik untuk memahami. Karena tiada satupun yang kita miliki adalah milik kita. Let it go~



Selang satu hari aku mengirim artikelku, sms untuk konfirmasi mengukiti acara seminar gagal terkirim ke nomer panita yang tercantum dalam pamflet. Aliran darahku naik turun tiada alunan yang pasti. Aktivitas di rumah saat libur tidak ada satupun yang tuntas aku selesaikan, berhenti ditengah. Apalagi kalau bukan ulang si ‘kurang fokus’? Aku ada disini (Semarang) tapi pikiranku melantung-lantung entah ada dimana? Di Solo? Bogor? Yogyakarta? Klaten? Boyolali? Korea Selatan? Australia? USA? Entah, tiada batasan pikiran untuk berlabuh.

Sosok terdalam dari diriku lagi-lagi menyadarkanku.

“Hei! Rizqi, lepaskanlah! Jangan semakin erat, itu hanya akan membuatmu gusar dan tersungkur!”

Apa maksudnya? Aku tidak memahami apa yang sosok itu bicarakan. Terlalu dalam untuk memahaminya. Tapi semenjak itu aku memutuskan untuk benar-benar enjoy dengan aktivitasku sekarang.

Liburan?

Ya, tidak ada salahnya bermain bukan? Ya, moment inilah yang terkadang merindukan saat aktivitas sehari-hari menumpuk menghujam kewajiban untuk segera diselesaikan. Keluar dari rutinitas, mencari semangat baru untuk kewajiban yang akan datang. Walau hanya beberapa jam namun itu sudah banyak kali hitungan detik yang menyenangkan. Kenapa berkumpul dengan teman dekat itu menyenangkan? Karena kita bebas mengekspresikan diri kita tanpa beban, itu yang aku rasakan. Danke my dear friends.

Jum’at, 26 Juni 2015

Sehari sebelum acara seminar itu diadakan, dan sehari setelah aku bisa benar-benar ikhlas dengan segala kemungkinan aku lolos atau tidak menjadi peserta seminar. Aku melakukan aktivitasku di rumah seperti biasa (ada kekosongan yang menjenukan terkadang hadir).

Ponsel yang tak bernyawa (data internet nihil =D) itu asal aku geletakkan di meja kamar. Tersungkur begitu saja. Baru sempat aku lihat untuk mengecek ada pesan masuk atau tidak.

1 pesan.

Nomor tidak dikenal. Mungkin saat ponsel meraung dengan panggilan nomer asing dihiraukan begitu saja. Tapi tidak ada salahnya membaca pesan dari nomer asing, walau itu pesan tentang ‘menang undian’. Hhehe

Tercengang, pesan itu dari kak Rahma. Panitia Seminar Kepenulisan besok. Kak Rahma minta untuk segera konfirmasi, karena aku belum terdeteksi untuk mengkonfirmasi artikel yang aku kirim (ya benar saja, sms konfirmasiku gagal masuk beberapa hari lalu).

Alkhamdulillah, keajaiban itu datang. Walau sesak diawal, menggusarkan hati. Percaya dan terus percaya, semua indah pada waktunya. Jika belum indah, berarti kita perlu belajar untuk ikhlas. Keikhlasan akan membawa kita ke muara akhir yang indah.
Sukron Ya Rabbii


Semoga bermanfaat.

Tidak mengapa mencoba walau hanya sendiri, jangan sampai peluang menyesal karena tidak melakukan suatu hari datang dengan gagah pada kita. Karena penyesalan selalu gagah hadir di akhir acara. Selamat beraktivitas kawan. Semangat, salam ceria.