Selasa, 30 Juni 2015

What Can I Do?




Semi diary dalam blog? Bisa jadi kawan, hhehe. Mungkin itu karena efek novel yang mulai aku garap 3 tahun lalu (tepat saat liburan kelulusan SMP masuk SMA, mengisi kesuntukkan berkepanjangan) macet. Mogok bertahun-tahun tanpa sempat editing dan finishing. Hhaha, jadi curhat lagi kan. Ah, gak asih mah aku terus yang curhat. Gantian, kawan yang pengen curhat tulis komentarnya di kolom komentar ya. Atau kirim ke email si Hana.

Masuk ke intinya ya =)

Aku belum pernah pergi sendiri ke luar provinsi, paling dengan teman-teman atau dengan keluarga. Dan kali ini menjadi tantangan sendiri untukku melakukannya sendiri. Aku yang belum punya pengalaman pergi jauh sendiri, ini menjadi pengalaman pertama dengan modal nekat. Yakin.

Semua teman yang pernah ke Yogjakarta dengan bus maupun dengan kereta semua aku hubungi. Dengan embel-embelan aku bingung dan habis ‘nangis’ karena bingung gimana nanti kesananya. Ini memang benar-benar kenekadtan yang benar-benar NEKAD! (But, it’s really really fun guys. Hhehe, biarpun dengan bumbu tangisan kkk~)

Aku modal nekad ikut seminar kepenulisan di UGM. Selain karena aku kagum dengan prinsip-prinsip yang ditanamkan sang pembicara Tere Liye (baca: fans berat Tere Liye). Aku suka menulis dan ada tante disana (baca: sekalian liburan di Kota Pelajar). Akhirnya nekad aja asal-asalan ikut ngirim artikel (karya sendiri) untuk syarat ikut seminar. Tema dan jenis artikelnya pun bebas. Hanya ditentukan 500-1000 kata.

Apa yang aku tulis? Mengalir saja,aku membuat artikel individu kenapa aku tertarik ikut seminar dan manfaat yang aku dapat disana kalau lolos ikut seminar nanti. Sebelum aku bertemu dengan pamflet seminar ini ada satu buku yang membuatku tergugah untuk membuat keterbatasanku menjadi nilai positif yang aku miliki. Ya buku “DIKTAT BISNIS MAHASISWA GALAU” (penulis : Vivi Al-Hinduan). Buku yang aku peroleh di bazar buku di Universitasku nanti (InsyaAllah).

Keterbatasanku adalah, instansi. Kuliah belum terdaftar, berkerjapun belum! Instansi mana yang hendak aku tulis? Ya itu gejolak yang aku alami saat menulis artikel.

Dalam buku tersebut, kak Vivi mengarang instansi untuk seminar bisnis juga. Bukan untuk maksud menipu, tapi untuk mencari bekal ilmu bisnis beliau. Sama halnya dalam pemasaran sebuah bisnis. Misal strategi Mbah Mo, wiraswasta pedagang bak mi sukses khas Yogyakarta. Beliau mengirim sms ke stasiun radio dengan format akhir (setiap sms yang beliau kirim) –dari Mbah Mo, Bakmie. Karena rasa penasaran membuat pemasaran. Hhehe. Itu strategi bisnis yang unik.

Haduh! Malah nikung ke bisnis. Lanjut ke “Seminar Kepenulisan”.


Nah aku tertarik untuk mencantumkan nama SMAku. Benar aku sudah lulus, tapi sebagai pihak transisi seperti ini instansi mana yang cocok aku tulis? Anak kuliahan belum dilantik (MOS), anak SMA udah lulus. InsyaAllah, aku tidak akan mencoreng reputasi tempat yang memberiku kenangan indah selama kurang lebih 3 tahun. Dengan, basmalah aku memutuskan untuk mencantumkan nama SMAku sebagai instansiku.

Setelah berkutik berhari-hari menunggu konfirmasi, sekarang aku bingung transportasi kesana. Sangking bingung dan gusarnya aku memilih untuk tertidur lelap usai sholat tarawih hingga sahur datang menyambut.

Hingga akhirnya seusai sahur, aku memutuskan untuk naik bus. Sebelumnya terpikir dibenakku untuk naik kereta. Tapi aku tidak terlalu yakin aku bisa mendapatkan tiket beberapa menit sebelum keberangkatan di akhir pekan seperti ini. Akhirnya dengan teman angin pagi yang cukup dingin membuat tulang-tulangku mulai ngilu. Aku berangkat dari Semarang pukul 04.30 WIB.

Kurang lebih selama 4 jam perjalanan dengan hati yang cukup gusar (terkesan dibuat tenang) akhirnya aku sampai di pemberentian terakhir. Terminal Giwangan. Bulek sudah menungu disana, aku menoleh sisi kanan-kiri. Bulek dimana? Sempat ada bapak-bapak tukang ojek yang menawarkan jasa, belum sempat aku menjawab tawaran bapak tadi seruan bulek dari sebrang sana membuatku lantas berlari ke arah bulek.

Tepat pukul 08.50 WIB aku sampai di gedung Seminar Timur Fisipol UGM. Hampir separuh peserta sudah hadir disana. Aku berbenah diri untuk pergi ke kamar kecil. Ho ho ho, sudah hampir jam 9 tapi mana si abang? Acara juga belum dimulai.

Hana! Dari kejauhan aku melihat sosok bersahaja itu, Tere Liye. Mengenakan kaos warna putih dengan sweater (yang aku kira tadinya jas) warna merah tergelantung begitu saja di bahu kanannya. Ah, untuk beberapa waktu aku merasa terbang di awan bertemu kakak lama yang terpisahkan. Hhaha =D

Masuk ke pambahasan inti :

Karena peserta yang terbatas (150 orang) untuk sebutan seminar, maka bang Tere memutuskan untuk membuat ‘Workshop Kepenulisan’ sekarang. Dengan fasilitas notebook dan alat tulis yang disediakan panitia semua peserta diminta untuk membuat 1 paragraf yang didalamnya terdapat kata hitam. Berulang kali, ya misi Bang Tere adalah mengajarkan kita untuk menulis dengan cara pandang yang berbeda. Itu poin pertama dalam menulis. Cara pandang yang berbeda.

Semua mengalir dengan indah. Dan dalam kesempatan kedua karangan paragrafku tentang hitam dibacakan si abang. Walau dengan gelak tawa karena aku salah menyebutkan hasil gradasi antara hitam dan pulih adalah silver (padahal kan abu-abu). Kakak yang humoris dan friendly. Aku melihat kakakku yang terpisah selama ini dengan dekat, dengan jarak kurang dari sejangkah. Kakak~

Ada karangan dari salah satu peserta tentang mulut yang berkesan untukku, tentu saja aku mengetahuinya karena karangan itu juga berkesempatan untuk dibacakan oleh kakak (Tere Liye). Kurang lebihnya seperti ini :

Mulut rakyat bungkam membisu dengan kebijakan pemerintah. Karena pemungutan yang dilakukan oleh pemerintah. Ya, pemungutan suara. Pemilu!

*Maaf, karangan aslinya tidak seperti itu. Tata bahasanya lebih indah, itu hanya review inti dari karangannya. Maaf kak jadi aku rusak karya kakak. Tapi disini sudut pandang yang berbeda ditambah tata bahasa yang indah, sunggu menarik. Mungkin di chanel youtube #RamadhanDiKampusUGM ada. Coba cek?

Dan yang unik lagi menurutku adalah saat sesi tanya jawab. Ada salah seorang peseta yang yang menanyakan apa motivasi Bang Tere menulis novel “Negeri Para Bedebah”? Karena usai saya (peserta yang bertanya) membaca novel tersebut muncul benih-benih kebencian pada pemerintah.

Apa jawaban Bang Tere? Simple : Reaksi pembaca itu berbeda-beda.

Kalian pernah baca novel “Daun yang Jatuh Tidak Pernah Membenci Angin”? Yang menceritakan kisah seorang gadis yang menyimpan perasaaannya pada seorang pemuda yang dia cintai? Tapi apa yang terjadi? Gadis itu sungguh terlambat mengatakan cinta, karena si pemuda sudah menikah. Saat menulisnya saya tidak bermaksud menanamkan nilai untuk segera menyatakan cinta saat itu juga, Dek. Karena kalo gadis itu bilang saat itu juga dan yang pemuda menjawab I love you back. Game over. Ndak ada itu novel “Daun yang Jatuh Tidak Pernah Membenci Angin”. Ini bukan masalah endingnya, melainkan ceritanya itu sendiri. Apa kalau gadis itu mengatakan cintanya langsung dia bisa menjadi gadis di akhir cerita? Yang mengejar mimpi-mimpinya untuk cintanya? Hingga dia berhasil mendapat beasiswa ke LN?

Pun sama, Dek. Saya menulis novel “Negeri Para Bedebah” karena saya penuh kasih sayang pada negeri ini, Dek. Simple, keperdulian. Akhirnya ada di novel “Negeri Di Ujung Tanduk”. Keperdulian sekecil apapun yang kita lakukan sekarang akan mengubah tabir kehidupan esok lusa.

Motivasi saya menulis adalah saat melihat anak saya, keponakan saya, remaja, pemuda-pemuda bangsa ini nanti akan baca apa? Apa yang mereka harus baca? Setidaknya harus ada bacaan yang mengantarkan mereka untuk mengubah bangsa Indonesia ke masa depan yang gemilang.

Walau kasih sayang itu sering disalah artikan, dan membuat diri saya terjatuh ke lubang terendah. Tapi setiap orang memiliki permata indah masing-masing di dalam hati, Dek. Setiap keadaan sulit datang, saya panggil motivasi saya yang tertaman di dalam hati. Menyulutkan api semangat saat semua sudah porak poranda.

Kurang lebih seperti ituah ulasan dari Bang Tere yang membekas dalam memoriku hingga detik ini. Bahwa setiap orang pasti mengalami masa-masa sulit. Tapi diawal kita memiliki niat (motivasi) untuk melakukannya. Hingga saat masa sulit itu datang, hadirkanlah motivasi indah yang tertanam di dalam hati. Hadirkan, dan nyalakan api semangat.

What can I do? (nothing)
I need Allah.
Sukron Ya Rabbii. It’s my first trip without friends and I find friends in my trip.

Sekian. Semoga Bermanfaat.

Selamat beraktifitas, salam ceria dari Hana.